Si hari yang moody
- May 29th, 2009
- Write comment
Hari ini aku jalanin dengan banyak “mutar arah”. Pagi-pagi bangun dengan semangat untuk ketemu oma siang ini, ngobrol ngalur ngidul. Tapi begitu sampai kantor batal karena situasi yang tiba-tiba menjadi rumit. Siang hari waktu keluar dari Menara BCA batal muter di Bunderan HI jadinya muter di depan Mall Ambasador. Lalu sorenya setelah siap-siap pulang nebeng teman, batal karena teman ganti arah, jadi aku gak jadi pulang.
Siang tadi sepanjang perjalanan ke kantor, aku kembali menggeluti pikiranku semalam, tentang baru ngeh-nya aku akan betapa tertutupnya aku. Oma sudah bilang itu beberapa kali tapi aku gak benar-benar memperhatikan ucapannya, she said am tightly closed. Aku baru benar-benar memperhatikan setelah membaca buku yang ditulis temanku, mbak Merry Magdalena – Situs gaul gak cuma buat ngibul. Dalam salah satu bab disitu ditulis tentang tips dan trik untuk memperluas pergaulan yang ditilik dari sisi konten profil di Facebook. Disebutkan kalau profil kita disarankan lebih informatif gak hanya berisi informasi standar saja tapi juga gak berarti harus menggumbar informasi personal seperti nomor hp dan alamat rumah. Karena dengan profil yang lebih informatif orang lain dapat memiliki gambaran yang lebih jelas tentang siapa diri kita.
Disitu aku tercenung dan membayangkan profilku sendiri, informasi yang kusajikan cuman 3 baris utama lalu foto profil pun tak pernah berubah. Dulu pernah menuliskan interest juga sih, tapi lalu ku hapus karena paranoid (melirik diam-diam kearah para social engineer yang lagi asyik nggali2). Dari situ akan kentara banget kalau aku tidak menempatkan diriku pada posisi “mudah didekati”.
Itu baru di dunia maya. Di dunia nyata aku sama tertutupnya juga. Masalahnya adalah aku tidak merasa aku itu tertutup. Menurutku, aku hanya super hati-hati. Aku selalu merasa kalau diluar sana itu gelap dan gak bisa ditebak. Tapi aku juga bukan pemain aman karena aku juga bisa menjadi avonturir dan nekat juga. Namun karena seringkali hasilnya mengerikan, jadi aku memilih kembali ke posisi super hati-hati lagi.
Namun di bis siang tadi, aku berpikir, tapi kan segala sesuatu bisa berubah kapan aja, apa pun itu. Bahkan untuk sesuatu yang kamu pikir akan selalu ada. Iya, pengalaman kehilangan orang-orang yang aku sayang, yang kebanyakan dengan tiba-tiba, mungkin sedikit banyak memengaruhi bawah sadarku untuk menjadi ekstra hati-hati, yang ujung-ujungnya membuat aku jadi super tertutup. Aku gak membangun tembok disekitarku lho, aku hanya tidak buka pintu dan jendela.
Aku senang dengan “penemuan” ini. Kesadaran bahwa aku itu sangat tertutup membuka pemahaman baru tentang diriku sendiri. Jadi kalau hari ini aku tertutup besok aku terbuka. Karena aku percaya kalau segala sesuatu itu pasti memiliki 2 sisi, terbuka/tertutup, siang/malam, tangis/tawa, tua/muda, gelap/terang yang memiliki “saat memutar balik”. Seperti bola yang terjun ditarik gravitasi, sesaat setelah menyentuh tanah ia akan mental melawan gravitasi, sebelum lalu ditarik lagi dan begitu seterusnya sampai selesai di tanah. Jadi mengetahui bahwa hari yang tertutup itu akan “memutar arah” menuju yang terbuka, membuat hatiku tenang. Tadi pagi aku gelisah, sore ini aku tenang…
oh, si hari yang moody…