Addicted to ThinkPad

Finally found ThinkPad List of Products wiki with wealth of info–start with its first arrival in 1992 (thanks to Mas Pri posting). From that page I got the official ThinkPad History at IBM’s page (now Lenovo’s).
I’ve been admiring IBM ThinkPad since I touched its 345D version. It was very tough and rigid (remebered that I was tried to fix its CD-ROM tray that won’t closed. From that experience I become known of what’s composing a notebook). And then I found 600D that become my first Debian installation–though it failed.

On August 2004 I bought myself second-hand T21 and installing Ubuntu Hoary (now Breezy) in it. And my pursuing of ThinkPad will continue to either T41 or Z60T series. Wish me luck! ;-)

[OMG my English! What am I trying to say here!? :-( ]

Kiss of Life

Kemarin hari Rabu Abu dan gw milih misa yang jam 6 pagi. Sebenarnya gw milih yang jam 8 tapi ternyata itu khusus untuk anak-anak SD tapi gak apa walau terasa impossible buat gw untuk melakukan kegiatan sepagi itu namun pemikiran karena bosan selalu gubrak-gabruk setiap tahun menjelang pulang kantor untuk mengejar misa Rabu Abu sore maka aku memutuskan untuk kali ini memberikan prime-time, yaitu diawal hariku.

Jadilah aku berangkat dari rumah jam 5.30 dengan naik bis sampe mayestik lalu berniat menyambung bajaj di Mayestik. Waktu sampai Mayestik kulihat ada 2 bajaj ngetem di depan gedung BNI46 keadaan masih gelap dan sisa hujan semalam menambah pagi itu semakin dingin. Saat kuhampiri ternyata kedua bajaj itu sudah langsung pergi membawa penumpang. “Wah, pikirku bisa telat nih?” Namun dari kejauhan aku melihat seorang bapak melambai dan berteriak *bajaj!* ke arahku. Kudekati dan ternyata dia sopir bajaj yang memarkir bajajnya diseberang jalan. Aku pun langsung ikut dengannya, namun aku berhenti sejenak untuk menghampiri seorang nenek yang tadi ikut turun bersamaku, aku bertanya kepadanya apakah dia ingin naik bajaj juga? Dia menjawab, “614″. Oh, ok kalau begitu tadinya aku berpikir untuk memberikan bajajku seandainya dia juga mengantri bajaj.

Dalam perjalanan sopir bajaj tersebut bertanya ada apa gerangan orang-orang pada ke gereja hari begini? Yang aku jawab, “karena hari ini Rabu Abu. Kenapa, pak sudah beberapa kali mondar-mandir kesana ya?” “Iya sudah dua kali”, jawabnya. Sampai di depan gereja aku membuka dompetku dan tidak menemukan selembar pun uang 5000-an. Oh no! kan sudah dipakai untuk beli sate padang tadi pagi! Alhasil yang tersisa tinggal satu-satunya selembar uang 100-ribuan. Haduh, mau ditukarin dimana? semua masih pada tutup dan gelap. Taksi aja selalu gak ada kembalinya kalau baru keluar apalagi bajaj pikirku namun kemudian pak sopir itu bertanya dengan ragu-ragu apakah aku mau pakai uang itu karena kebetulan dia punya kembaliannya! Hee! seruku riang gembira (hehehe), “benar nih? tentu saja saya mau!”, sahutku.

Turun dari bajaj aku merasa begitu diberkati lho..hehe emang deh Dia tahu apa yang dibutuhkan anakNya dan akan sediain itu semua selama yang kita lakukan emang seperti apa yang Dia mau. Uuh, jadi doain yang bagus-bagus deh buat pak sopir bajaj tadi hehehe.

Selesai misa hujan turun deras, aku langsung stop bis yang lewat depan gereja lalu nyambung angkot yang lewat persis di depan kantorku setelah sebelumnya mampir beli cakwe. Wah, sampai kantor jam 8 hihihi sehari-hari aja aku paling sampai kantor jam 9 lewat padahal rumahku gak jauh dari kantor. Mama aja sampai shock pas lihat aku di kantor dan ngirain aku ngigau. Hehehe

Dan kejutan masih berlanjut karena siangnya temen gw, Srie, memamerkan kalau dia baru saja menemukan dan membeli CD Ken Hirai 10th Anniversary Complete Single Collection ’95 – ’05! Huaaaa….jeritku, “beli dimanaaaaa??”, “Hiiiih…ada Kiss of Life!!!” Itu lagu yang sudah lama banget aku suka waktu lihat di MTV secara tidak sengaja sekitar tahun 2002 lalu. Dan lagu itu susah sekali dicari dimana-mana . Dulu sempat aku tanya ke Srie tapi dia hanya punya album Ken’s Bar dan Kiss of Life itu ada di album Gaining Through Loosing. Jadilah aku berdebar-debar sepanjang hari dengerin Ken nyanyi seharian di komputerku hehehe. *sigh* what a bless. And that CD is certainly a must have collection! Murah juga lho untuk ukuran 2 CD cuman Rp. 85.000,- karena sudah dibuat di Indonesia, gak import ;-) Oh, How ken you be so irresistible? :-(

Hehehe aku suka deh dengan hari ini….;-) The day I found you, Ken. Oh iya dia itu ganteng banget tenyata dan yang aku suka dia tampangnya bisa digayain macem-macem; dari tampang cowok manis, cowok cool sampe gaya urakan dan semuanya keren gak ngebosenin. Dan dia kelahiran 17 Januari 1972! Capricone, eh? tanggal lahirnya deket sama Superman  :-D

Buat Superman: if you accidently ever happened to be stumbled upon my blog–yes, you..cowok yang 90% selalu pake setelan kaos putih – celana putih juga kalo nge-gym di Celeb Fitness tiap Sabtu or Minggu,  the birthday-boy seputar tanggal 10 Januari–yes, this song for you. :-D

Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati

Rasanya begitu berantakan padahal tadinya gw merasa baik-baik aja. Tapi ternyata fitnah itu memang tajam. Begitu menyakitkan dan begitu menusuk. Gak mudah untuk tetap tenang saat kapalmu terombang-ambing badai dan sebentar lagi akan karam. Mungkin seperti kepanikan di Titanic? Kamu berdiri diujung geladak berpengangan erat sementara kamu melihat semua temanmu, orang-orang disekitarmu seketika merosot jatuh ke kedalaman laut. Kamu masih berpengangan dan merasakan setiap menit yang berlalu, merasakan kapal itu membawamu jatuh kedalam. Kamu tetap tenang karena kamu pikir kamu bisa berenang walau mungkin gak terlalu lama karena cepat atau lambat kamu akan kelelahan namun setidaknya kamu masih berharap hidup. Namun asa itu seketika tercabik saat jeritan minta tolong itu mengoyak telinga hatimu. Mereka yang berteriak kepadamu, memohon uluran tanganmu. Tanganmu tak sejauh itu. Kamu tahu waktumu akan tiba. Beberapa menit atau bahkan beberapa detik lagi kamu akan bergabung bersama-sama mereka tercerai-berai dilautan maha luas itu. Hanya saja suara didalam hatimu mengatakan belum saatnya. Tak perlu kamu melompat dan terjun kesana, ikutilah saja kapal ini, dan dia akan membawamu tenggelam ke kedalaman.

Dan aku masih disini, berpengangan pada tiang palka ini perlahan namun pasti badan kapal yang berat ini membawaku serta kedalam. Dan dibawah sana jerit-jerit menghujat itu terdengar: “apa yang kamu cari?!”, “kenapa kamu begitu erat berpengangan diatas sana?! tidakah kau ingin menjangkaukan tanganmu kearah kami?!” “tolonglah kami!” “kenapa kau begitu setia pada kapal karam ini?!”. Sebentar lagi, senyumku dalam hati. Satu jam lagi, satu menit lagi, satu detik lagi aku akan bersama-sama kalian.

*/ postingan ini di dramatisir dengan iringan:

1. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – tableaux for piano in D major op 39 no 9 (3:23)
2. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – morceaux (6) for piano 4 hands op 11 scherzo (2:54)
3. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – morceaux (6) for piano 4 hands op 11 slava (4:11)
4. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – morceaux de fantasie (5) for piano op 3 no 2 (3:47)
5. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – piano concerto no 2 in C minor op 18 III allegro scherzando (11:44)
6. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – prelude in G minor op 23 no 5 (3:53)
7. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – prelude in G sharp minor op 32 no 12 (3:15)
8. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – rhapsody on a theme of paganini (2:44)
9. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – sonata for cello and piano in G minor op 19 II Allegro scherzando (6:45)
10. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – symphonic dances for orchestra op 45 III lento assai (13:13)
11. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – symphony no 2 in E minor op 27 III adagio (12:00)
12. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – vocalise (6:10)

*/ thanks, Srie for sharing your collection.

My Line, Your Line, Our Lines

Dan sekali lagi aku merasa drop begitu sangat saat aku harus menjelaskan kepada mereka seperti apa kriteria seorang pujaan hati ideal buatku. Terus terang ini adalah salah satu topik yang aku sendiri gak bisa jelaskan karena disamping kriteriaku bisa berubah-ubah hal ini hanya akan menghabiskan begitu banyak energi dan perasaan saat mencurahkannya. Dan biasanya diakhir pembicaraan hal seperti itu tidak akan pernah mencapai *kesepakatan* pemahaman bersama karena at the end kita semua akan tetap bersikukuh pada pendapat kita masing-masing tentang seperti apa yang namanya pujaan hati ideal. Dan semua itu akan terus terjadi selama kita tidak mengetahui, menghargai dan mengembangkan batasan-batasan diri kita dan orang lain.

Bounderies. aku gak sengaja baca buku itu di ICRP kira-kira sebulan lalu. Dari buku itu aku jadi mengerti kenapa aku suka memendam kekecewaan. Dan bukannya menerima kenyataan bahwa aku bisa dan sah untuk merasa kecewa/sakit hati, aku simply menyalahkan diriku sendiri karena aku tidak bisa memenuhi standard orang lain, tidak bisa sepenuhnya setuju atas pendapat org lain, tidak membiarkan orang lain bahagia atas diriku. Aku pun lalu menjatuhkan dakwaan *sensi* atas diri aku sendiri, payah, menyedihkan dlsb. Itu semua aku lakukan dan aku simpan sebagai kemarahan yang terpendam yang terlalu takut untuk aku keluarkan karena aku takut dianggap menyakiti orang lain, dianggap bersikap gegabah, bebal atau tidak bijaksana. Aku jadi takut (dan menghindari) konflik.

Namun sekarang sedikit demi sedikit aku mengerti bahwa itu adalah batasan-batasanku yang aku hadapi. I’m dealing with my boundaries, I’m gradually seeing my boundaries now. Aku jadi mengerti kenapa waktu itu aku begitu berbeban hati saat secara refleks aku menjauhkan wajahku dari wajah teman laki-lakiku yang mendekat secara tiba-tiba. Saat itu aku merasa sangat bersalah krn bersikap spt itu didepannya mengingat dia adalah teman baikku. Orang baik bukan some dangerous stranger, aku pun menyalahkan diriku sebagai angkuh dan tidak bersahabat. Gak henti-hentinya aku menyalahkan diri aku sendiri atas kejadian itu, aku berpikir dia pasti menangkap reaksi menjauh tiba-tiba itu. Dia pasti menganggap aku ke-gr-an. Namun ternyata itu adalah batasan ruangku yang aku *lihat*. Aku merasakan dia melanggar batas ruangku. Itu sebabnya aku bisa membiarkan orang-orang yang berbeda untuk bisa lebih dekat kebatas fisikku. Kekasih, teman, sahabat, apakah itu laki-laki atau perempuan semuanya berada dalam jarak yang berbeda-beda kebatas fisikku. Seorang kekasih mungkin bisa lebih dekat ketimbang teman biasa laki-laki atau orang asing bahkan akan lebih jauh lagi jaraknya.

Demikian juga aku jadi mengerti kenapa aku bersikap begitu defensif saat teman-temanku memasang-masangkan aku dengan seseorang yang mereka kenal. Mereka begitu kecewa saat aku telak-telak menolak tawaran itu, mereka menganggap aku terlalu defensif dan gak memberikan kesempatan pada orang itu untuk mengenalkan dirinya kepadaku. Dalam hati aku menjerit, Tuhan, apakah sebegitu parahnyakah aku? Aku percaya bahwa setiap orang mempunyai hak untuk menjelaskan siapa dirinya, punya hak untuk diterima sebagai mana apa adanya mereka. Namun bukan itu maksudku menolak hal tersebut. Aku pribadi tidak melihat ada yang salah dalam diri orang itu tapi apakah aku salah kalau aku tidak melihat diriku tertarik padanya?

Hal itu terus terjadi walaupun aku telah mengambil sikap diam dan mencoba berpikir postif bahwa mereka hanya ingin membantuku menemukan yang terbaik. Mereka adalah teman-teman baikku yang gk berkeinginan menjerusmuskanku kedalam keburukan. Dan semua itu berjalan dengan baik hingga siang tadi mereka kembali mengungkitnya. Dan sekali lagi aku harus menghadapi dakwaan *too defensif* yang mereka jatuhkan atas diriku. Setengah mati aku mencoba menjelaskan alasan-alasanku namun seperti yang kuduga semua berakhir tanpa kesepakatan damai. Aku kembali lesu dan menyudut kembali secara diam-diam diliputi kemarahan dan kesedihan yang teramat sangat. Aku menangis karena hal itu. Rasanya seperti ingin menghancurkan diri sendiri yang gak juga mampu menerima sisi baik dari sikap mereka. Aku bisa melihat sisi baik itu namun mengapa tidak bisa menjejalkannya begitu saja sebagai satu-satunya solusi dari konflik bathin berkepanjangan ini.

Lalu akupun ingat akan konsep boundaries itu. Aku ternyata harus menerima kenyataan bahwa mereka telah melanggar batas emosionalku. Mereka tidak sadar telah melaluinya karena aku juga tidak dengan segera sadar dan mengingatkan mereka akan hal itu. Sikapku yang too defensif itu seperti bola yang meluncur balik ke arah pelemparnya. Semakin keras kita melempar sebuah bola ke arah tembok maka akan semakin keras pula bola itu memantul kembali kepada kita. Kini aku hanya tinggal merangkai kata-kata yang akan kupakai untuk menjelaskan hal ini kepada mereka. Karena besar dan luasnya ruang emosi kita tidaklah sama dengan besarnya ruang emosi orang lain. Ya, batas-batas emosi tersebut bertumbuh, kita dapat mengendalikan luas lebarnya dengan terlebih dulu melihat batas-batas kita tersebut dengan jelas kemudian melihat dan menghargai batas-batas orang lain dan secara bersama-sama mengkomunikasikan batas-batas tersebut hingga kita bisa hidup berdampingan dengan damai yang sejati. Yang sering kali terjadi adalah kita menjadi begitu permisif sehingga membiarkan orang lain menginjak-injak batas kita atau melakukan pembenaran pribadi atas sikap hidup orang lain yang berbeda. Peperangan adalah dampak dari kebenaran tunggal sepihak yang dipaksakan atas hidup orang lain dan penindasan/penjajahan adalah akibat yang diterima dari sebuah sikap membiarkan orang lain melanggar batas-batas kita. Kedua belah pihak mungkin saja sama-sama tidak sadar bahwa mereka melanggar batas org lain atau mereka sebenarnya memiliki batas.

Itulah sebabnya mengapa batas-batas tersebut harus dikomunikasikan dan dari situ dikembangkan sikap menghargai garis batas satu sama lain. Konsep batas bukan dimaksudkan untuk mengkotak-kotakan manusia dalam kehidupannya namun justru untuk menciptakan kebahagian bersama yang sejati, kedamaian yang tidak semu, ke pemakluman yang tulus. Aku jadi ingat romo Frans Magnis Suseno dan Aa Gym pernah sama-sama menyatakan pada kesempatan yang berbeda bahwa dalam perbedaan bicarakan persamaan (persamaan bukan penyamarataan). Ya, menurutku itu benar karena dengan demikian hati kita akan lebih tenang, lebih tentram dan pikiran akan lebih jernih untuk mengkomunikasikan perbedaan. Sehingga peristiwa protes berkepanjangan pembuatan karikatur Nabi Muhammad s.a.w di sebuah tabloid Denmark tidak perlu terjadi kalau saja semua pihak bisa menghargai batas-batas masing-masing entitas didunia ini. Buat saudara muslim segala hal yang mengarah pada pewujudan visual orang-orang suci dalam agama mereka adalah sebuah pelanggaran berat sementara buat saudara Kristen pewujudan/intepretasi visual orang-orang suci dijadikan salah satu jalan untuk memuji, hal yang sama juga berlaku untuk saudara yang beragama Budha, patung Budha bukan hanya suci namun bahkan dianggap karya seni dan dipuja oleh banyak orang diseluruh dunia. Dan semua itu akan menjadi benturan keras dan konflik yang berkepanjangan jika agama yang satu tidak menghargai agama yang lainnya. Kristen dan Budha bisa menganggap Islam tidak mempunyai jiwa seni visual yang tinggi sebaliknya Islam bisa menuduh Kristen dan Budha menyembah berhala. Hal yang sama terjadi saat pers berlindung dibalik hukum kebebasan pers dan semua itu akan terus berbenturan selama belum ada rekonsiliasi dari semua pihak untuk mencari titik temu yang sejati.

Aku terdiam membaca tulisanku kali ini dan teringat akan kejadian beberapa waktu yang lalu saat aku menanyakan kepada saudara sepupuku apakah aku boleh mengajak anaknya yang berumur 2.5 th kekantorku. Suaminya melarang dan aku benar-benar kecewa karena aku sungguh-sungguh kangen dengan keponakanku itu dan merasa tidak dipercaya sementara aku pun sudah sadar kalau keponakanku itu sangat moody sehingga malamnya bisa bilang mau, paginya bisa gak mau tapi paling tidak berikan aku kesempatan untuk mencoba. Lalu suaminya itu menjelaskan, bukannya dia tidak percaya namun anaknya itu belum diajarkan untuk kepada siapa saja dia boleh ikut pergi dan kepada siapa saja dia tidak boleh setuju diajak pergi. Sejenak aku mengeramkan pendapatnya itu lalu aku mengerti. Ya, anak kecil belum menyadari batas-batasnya dengan matang. Itulah sebabnya kenapa ada anak kecil yang mungkin diam saja saat diperlakukan kurang ajar dengan seseorang yang lebih dewasa namun kemudian batas fisiknya mengungkapkan hal tersebut. Dia bisa menangis sakit saat bagian tubuhnya disakiti. Oleh karena itu bantulah anak-anak kita untuk mempertahankan dirinya, mengenal dirinya dan bantulah mereka memahami dan menghargai batas-batas orang lain.

TTS (Temenan Tama Sepi)

Ud beberapa minggu belakangan gw merasa perlu melakukan sesuatu yang lain. Suasana kerja yang sedang membosankan (pasca hari-hari raya semua mulai kembali *normal*), boring sama diri sendiri, kehidupan cinta yang masih gitu-gitu aja yah, pokoknya hal-hal yang biasa dan rutin mulai menjerat gw. Dan gw berencana untuk cuti panjang 7 hari kerja.

Setelah kemarin ternganga-nganga dengan claymation movie Wallace & Gromit In The Curse of The Were-Rabbit gw pun mulai mencari yang lain. Thanks to Pupung yang ud minjemin VCD lama mereka (A Grand Day Out dan The Wrong Trousers). Setelahnya secara tak sengaja gw menemukan Robbie The Reindeer: Hooves of Fire dan Pingu Vol. 1 (ada 12 seri). Yang terakhir itu aduh, lucu banget. Gw sama adek-adek sampai ngakak-ngakak dan terharu..:-). Tapi yang Robbie itu membosankan karena disulih suara, gw jadi ndk merasakan emosinya. (note: Pingu itu bahasanya gk jelas, bhs penguin kali tapi ekspresif banget kayak, hmm…Mr. Bean kalo nggrundel, tau? Nah!) :-)

So, pergilah gw tadi ke Toys City cari lilin mainan. Ternyata gw kangen banget sama kegiatan itu terakhir itu gw lakukan jaman SD, kali :p. Well bukan Play-Doh sih yang dibeli–mahal, bo!–tp gw beli yang biasa aja Kiddy-Clay Modelling Compound. Beli 2 set totalnya cuma Rp. 18.800,- :-)

Yah, kira-kira hal itulah yang nanti akan mengisi cuti panjang gw. Sendiri, ngulik-ngulik lilin mainan, bikin ini-itu, menghayal, ketawa sendiri, terharu sendiri…oh, well what a life. ;-)

Peace. Where?

Gak selamanya ucapan atau hari Natal itu indah buatku. Kadang aku merasakan kepura-puraan yang sangat di dalamnya. Natalku waktu kecil diwarnai acara kunjungan ke saudara-saudara yang lain. Namun ndk jarang kunjungan tersebut terasa kering dan dingin.

Bukankah seharusnya hari Natal itu penuh suasana damai di hati? Saling berbagi kebahagiaan, saling menerima keadaan satu sama lain. Karena Yesus sendiri harus kita terima lahir dalam keadaan yang memprihatinkan dan sama sekali tidak meriah. Kita sekarang bisa menerima keadaan Beliau yang seperti itu setelah semua cerita itu. Setelah Dia diakui sebagai Nabi dan perwujudan Tuhan sendiri. Namun jika kita hidup pada masa kelahiranNya mungkin kita juga akan menyepelekan Dia.

Entah, mungkin aku terlalu melebih-lebihkan hal ini. Namun aku masih tidak dapat melupakan bahwa hari Natal itu seolah hari penghakiman buatku dari Bude, tante atau om-om ku. “Bangun jam berapa kamu kalau libur?”, “Anak gadis kok bangun siang”, “Kamu tuh ndk punya rok ya?”. Dan biasanya aku hanya duduk diam mematung sambil senyum-senyum dan bergayut dilengan bapak atau ibuku atau bersikap itu sesuatu yang lucu dan harus ditertawakan (sikap standar anak kecil kalau merasa terintimidasi). Atau nasehat-nasehat kering yang lainnya, seperti “Kalau gereja itu duduk di dalam diluar itu gak khusuk”, “harus rapi, pake rok. Pake rok tante ya?”. Yah, sebenarnya ndk salah nasehat-nasehat itu tapi kalo diucapkan seperti kalimat yang di garis bawahi dan diulang-ulang begitu terus, seseorang pasti mual. Seolah kita ndk pernah menjadi dewasa dan memiliki karakter sendiri.

Seperti kemarin, aku setengah mulas saat mau mengirim SMS Natal ke budeku. Aku hanya sedang ndk ingin berkunjung ke rumahnya. Aku mendambakan saat dimana aku merasa ingin datang ke rumahnya tanpa harus ada occassion atau event tertentu. Just come by. Makanya saat tidak ada Delivery Report yang masuk aku pun makin senewen. Lalu ku SMS sepupuku. Sampai, namun ndk ada balasan. Aku selalu menemukan keadaan jaringan GSM berlebihan trafik saat hari raya keagamaan jadi ya, sering apes.

Selang beberapa hari kemudian aku SMS kembali dan benar beliau marah padaku. Walau ku katakan alasannya kenapa, beliau tetap meminta agar aku ndk mengulanginya lagi. Again, Natal-Natal dimarahi. Sulit utk merasa damai.

Beberapa waktu sebelumnya tanteku yang annoying (maaf tante) datang ke rumah (seperti biasa antar kue) untung aku kerja jadi hanya ada ibuku dan adik-adikku. Beliau mengantarkan kue yang terus terang terlihat manis dengan buah-buahan diatasnya. Namun…setengah basi. Well, ya dia tidak mengatakan begitu tapi bilang bahwa kue tersebut harus cepat_cepat_dimakan. Adikku yang kecil sudah hampir muntah saat memakannya. Dan tanteku yang juga menerimanya sempat mengingatkan ibuku untuk tidak perlu memakannya. Well, untungnya aku memang ndk terlalu suka kue-kue manis berkrim.

Sepertinya tanteku berusaha memperbaiki keadaan karena esoknya dia menelpon dan meminta aku dan adikku datang malam itu ke rumahnya mengambil seloyang pizza pada pukul 23.00 malam. Aku baru sampai rumah jam 20.30 dan adikku sedang keluar dengan teman-temannya. Dia mengatakan tak bisa antar kesana karena kalau ketahuan tanteku yang satu lagi dia akan terpaksa beli 2 loyang. Oh, please deh, tante! Aku memutuskan ndk ikut. Karena menurutku ndk penting dan dia ndk seharusnya merepotkan orang tengah malam hanya untuk mengambil pizza yang jasa delivery-nya sudah mapan. Mungkin berbeda kasusnya kalau itu adalah kue buatannya yang harus kuambil. Yah, akhirnya adikku terpaksa datang pagi-pagi kesana sebelum berangkat kerja. Again, Natal-Natal dimarahi. Sulit utk merasa damai.

Dan begitulah keadaan keluarga besar bapak-ibuku. Tidak semua memang namun perang dingin karena hal sepele (mostly materi) menyebabkan terlalu banyak kepura-puraan dihari Natal yang seharusnya damai dan teduh itu. Aku tahu mereka baik dan aku mencintai mereka namun ada sikap-sikap mereka yang sangat mengganggu dan tidak dewasa serta tidak bijaksana yang tidak dapat aku terima sebagai contoh dan teladanku. Aku sulit untuk mengagumi mereka.

Aku ingin bisa datang ke rumah mereka dengan perasaan kangen dan hangat. Seperti waktu aku berlebaran ke rumah kakak ibuku beberapa tahun belakangan ini. Aku bisa datang dengan santai, nobody commenting unnecessary things. Tak perlu di paksa melakukan ini itu atau di review kesehariannya. Dan aku disana biasanya ngobrol sebentar setelah itu..tidur. Uuummmh…damai dan bahagia di bumi. :-D

Kapan ya, keluargaku besarku seperti itu?

Selamat Hari Natal

Aku memang sudah terbiasa melewati hari Natal yang biasa-biasa saja. Masa-masa beli baju baru dan menghias pohon Natal hanya aku jalani sewaktu aku masih kanak-kanak SD. Keadaan biasa itu dimulai waktu ibuku ndak ada waktu aku baru masuk SMP. Beruntung aku sekolah di SMP Katolik, SMPK Tarakanita 5, waktu itu. Jadi paling tidak aku ndk merasa kesepian banget menjelang Natal karena biasa pada saat itu sekolah mengadakan Pentas Seni yang cukup besar di Aula SMA Tarakanita 1. Namun saat SMA sampai beberapa waktu tahun yang lalu hari Natal benar-benar tidak mempunyai arti atau kesan apa-apa buatku. It goes by just like another days gone by.

Saat-saat itu aku mengalami masa-masa yang mengerikan karena aku mulai mempertanyakan semua itu dan wondering what is the right thing? Could it be any better? Salah satu dari sekian pertanyaan itu adalah kenapa aku ndk pernah atau jarang sekali menerima ucapan Selamat Natal dari teman-temanku yang muslim? Aku ndk terlalu menyadari hal itu awalnya namun lama-lama aku merasa seperti ada yang ganjil saat *acara* salam-salaman itu datang dan aku merasa ada yang kosong.

Aku mencoba mencari tahu dan aku menemukan bahwasanya hal tersebut dilarang karena bertentangan dengan akidah keagamaan mereka. Aku mencoba memahami & menerima hal tersebut sewajar mungkin. Karena aku juga ndak ingin apa adanya aku menyakiti mereka.

Namun tetap saja saat hal seperti itu harus terjadi dengan orang-orang terdekat atau sahabat-sahabat yang bersama mereka aku berbagi banyak hal, suka dan duka, tawa dan canda rasanya menjadi lain. Sakit. I have to admit that I felt like an half alien in their eye. A beast that must be avoided during full-moon.

But then I search the peace within. He must have gone though these all before me and so must I in followed His way. But I also believe in wisdom. There’s moeslem around me that so wise, so dearly care for me. My moeslem step-mother, my so called Mama at the office, my other dearly moeslem friends. And I can’t be still disappointed when I remember their affection for me. Greeting me so warmful in that day. And then those disappointments feeling are vanished.

Kemarin aku dapet hadiah Natal yang dibungkus dari ibuku, (catet kata *dibungkus* ya) sebuah sprei warna biru dengan logo Chelsea FC dimana-mana. Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun hidupku aku menerima kado_Natal_yang_dibungkus. Sweet banget dan aku ndk bisa menyangkal diri untuk tidak terharu dalam-dalam. Nanti ya, aku scan ucapannya. :-)

Dan lalu aku menemukan link ini dari salah seorang aktivis blogger Indonesia.

Aku kutip sedikit disini:

“Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia
agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen
yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan
Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri
perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat
mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami
sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan
yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan
kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu……”

“Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya
memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman,
agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang
dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada
seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya
atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat
Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan
situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan
kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain,
maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu…”

“Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu,
bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai
akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang
membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana
dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal
tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.”

“…kita dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh
umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat
kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan.
Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan
ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah
kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari
kebangkitannya nanti.”

MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 – Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

Aku ndk bisa menyangkal ada perasaan teduh dihatiku saat membacanya. Begitu manusiawi dan saleh. Ada rasa lega yang berhembus masuk ke paru-paruku. Dan aku mensyukurinya. Dan sekali lagi aku mengagumi dan menghormati Bpk. Quraish Shibab sebagai cedekiawan muslim yang manusiawi dan bijaksana. Tuhan memberkati bapak sekeluarga.

Selamat Hari Natal teman-teman. :-)

Return top