Dan ruang itu pun kosong..
- November 3rd, 2007
- Write comment
Semalam aku mencoba bicara dengan diriku. Mendengarkan apa yang ia bicarakan tanpa pretensi, tanpa kerangka pikiran bawaan. Hanya mendengar, cuma mendengar. Hasilnya? gak sempurna. Aku yang diriku ceritakan itu “tampak” absurd, “tampak” kabur dan gak jelas. Tapi nyata dan saangat nyaman berada bersamanya.
Yang terjadi tadi malam seperti pengungkapan diri yang sebenarnya yang setelahnya membuat kita sama-sama terhenyak dan kelu. There are too many to swallow. We just sitted opposite one another last nite and let all truths revealed itself. Rasanya seperti kosong melompong. Seperti rumah kosong yang telah ditinggalkan penghuninya yang telah tinggal disana bertahun-tahun lamanya. Sehingga yang tinggal hanya keheningan dan kekosongan yang tampaknya akan abadi. Yang tinggal hanya kenangan-kenangan yang pernah mengisinya.
Tapi lalu rumah itu kemudian ditinggali orang lain, keluarga lain. Segera sesudahnya keramaian, kebahagiaan, kesedihan dan air mata mengisi setiap relung ruangnya. Perjalanan baru telah dimulai, hidup baru telah datang dan semua pun tersenyum karena memang tak seharusnya rumah kosong tak berpenghuni dan tak seharusnya seseorang ditinggalkan tanpa tempat tinggal di pinggir jalan. Begitu pun diriku, segala yang telah dikeluarkan, segala kekosongan yang disebabkan oleh semua pengungkapan itu akan tinggal beberapa waktu sebelum kembali terisi dengan hal-hal yang baru. Kehidupan baru. Karena tak seharusnya jiwa ada tanpa kehidupan, tak seharusnya hidup ada tanpa ruang jiwa yang memeluknya.
