Gw gak bisa menahan rasa sangat terkejut waktu dini hari tadi (Senin, 10 Juli 2006 pkl. 02.00) Zinedine Zidane di kartu merah wasit karena ujug-ujug menanduk dada Marco Materazzi hingga dia jatuh terjengkang. Saat itu gw lagi manyun karena setelah Frank Ribery diganti giliran Thiery Henry yang di istirahatkan padahal gw berharap banyak banget sama mereka mana sebelumnya Patrick Vierra juga sudah ditarik keluar sama Mosieur Domenech. Penonton siaran langsung memang tidak bisa melihat saat insiden itu terjadi karena kamera utama sedang menyorot adegan pergantian pemain itu namun tidak lama disajikan tayangan replay dan disitu barulah terlihat jelas Zidane dan Materazzi yang dalam posisi bertahan hendak memperebutkan bola namun keduanya tidak berhasil dan kemudian terlihat sama-sama berjalan berdampingan saling berbicara. Namun kemudian Zidane berhenti memutar balik, menunggu sebentar Materazzi mendekat lalu menanduk dadanya hingga jatuh terjengkang.
Gw setengah menjerit saat itu: “What’s he doing???”, What’s on his mind???”. “Oh no Zidane, itu kartu merah!” Dan benar, walau wasit tidak langsung menyempritnya dengan keras kartu merah itu akhirnya keluar. Gosh! Zidane kamu tamat (aku baru tahu dari detikcom kalau ternyata wasit pun tidak melihat insiden itu baru setelah melihat replay-lah dia mengambil keputusan). “Arrgh…Materazzi ngomong apa sampai dia emosi gitu??”. Damn, you! Yeah, gw emang ud dari dulu benci ama tuh pemain. Dulu sempet ada kejadian (lupa piala dunia 98 atau 2002) waktu itu dia main kasar banget dan ngejegal pemain Inggris-ku akibatnya dia didepak dengan kartu merah. Wuih, aku seneng banget waktu itu. Makanya pas denger ternyata dia sekarang masih main di PD dan sempet di kartu merahin juga, aku cuman geleng-geleng kepala. Gila tuh orang dari dulu gak sekarang gayanya sama aja.
Paginya dengan rasa penasaran gw pun tanya pendapat temen gw, Ferdi soal insiden itu. Apa mungkin dia emosi karena omongan Materazzi. Dia bilang: mungkin. Dan lalu dengan suara yang tiba-tiba menyusut: Dia kan muslim dan Materazzi kan conggornya emang gak beres. Hoh! gw baru tahu Zidane muslim. Well, oh ok no wonder B nge-fans banget sama dia. Gw pun langsung menyalakan engine andalan: google. I had to find out more about this player (krn gw gak terlalu tahu pemain ini mengingat namanya yang terlalu berkilau dan botak pula jadi gw gak terlalu ngefans. Baru setelah bbrp bulan lalu baca profile-nya dia di Bolavaganza gw pun suka sama profile-nya yang tenang dan humble itu).
Cukup mengejutkan apa yang gw temuin kemudian karena ternyata dia gak sekali itu di kartu merah (makin penasaran krn bukannya selama ini dia termasuk pemain bersih?). Dan hal yang lebih mengejutkan gw lagi, dia selalu di kartu merah karena melakukan tindakan menanduk/menjegal (2 x nanduk, 1 x stamping) pemain lawan secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas (secara fisik).
—
“Zidane was a member of the French football team in the 1998 FIFA World Cup, scoring two headed goals in the final against Brazil, which ended in a 3-0 victory. This earned France its first World Cup championship and it was also the first time in 20 years that a host had won the tournament. Earlier in the competition he received a red card and a two-game suspension in a 4-0 win over Saudi Arabia for stomping on an opposing player for no apparent reason. Reports from people close to Zidane state that the Saudi player in question had provoked him verbally.”
“Zidane is one of the football icons of his generation and is known to be modest, quiet and admittedly shy. However, Zidane has occasionally shown a quick temper on the pitch. One such display occurred in a 2000/2001 Champions League match between Juventus Turin and Hamburger SV, in which Zidane headbutted Jochen Kientz; he received a red card for this action. He also received a red card in the 1998 World Cup for stamping on a Saudi player. In extra time of the 2006 World Cup final, he head-butted Italy’s Marco Materazzi, allegedly in response to a racial slur.”
—
Wow..It’s tough to be a Zinedine Zidane. Dan somehow sekarang gw ngerti akan sikapnya yang seperti itu tadi pagi. Seorang yang tenang walau bagaimanapun punya batas-batas ke-sensitivan yang tidak bisa dilanggar. Apalagi setelah membaca wiki dan website lainnya gw semakin tahu kalau batas soal ras dan agama adalah hal yang seringkali mendera dan menekannya sebagai seorang imigran Algeria dan seorang muslim. Jadi hampir bisa gw simpulkan kalau tindakan-tindakannya itu adalah akibat terprovokasi kata-kata lawan.
Gw jadi inget komentarnya Rowien waktu Christiano Ronaldo ujug-ujug mendatangi wasit dari jarak 40 m “mengomentari” pelanggaran yang dilakukan Wayne Rooney sehingga membuatnya di dorong kesamping oleh Rooney akibatnya wasit tidak segan-segan mengganjarnya dengan kartu merah. Dia bilang begini: orang-orang itu kan cerdik-cerdik, Sis. Ya! Ronaldo (yg notebene teman satu timnya di ManU) tahu kalau Rooney sangat temperamental hingga dia “memanfaatkan” insiden tersebut sambil (mungkin) berharap kontribusinya itu bisa lebih memuluskan jalan Portugal ke semifinal. Apa pun itu, dia berhasil. Dan mungkin demikian juga dengan pemain Arab itu di tahun 98 lalu Jochen Kientz di thn 00/01 dan Marco Materazzi dini hari tadi, mereka semua tahu kalau Zinedine Zidane lemah dan teramat sensitive dalam issue-issue sara.
Namun walau detikcom mengomentari hal ini sebagai tindakan terbodoh Zidane dan mungkin juga penggila-penggila bola lain di seluruh dunia (yang tahunya cuma teriakan: Gol!) memakinya. Ini semua secara psikologis sangat bisa di pahami.
Menanggapi hal ini temanku hanya mengomentarinya sebagai: dalam setiap pertandingan pasti ada yang menang dan kalah. Dan gw gak tau mesti mengomentari seperti apa. Adakah memang hanya se-simple itu pertandingan-pertandingan besar ini. Adakah hikmah yang bisa kita ambil? Tidakkah ini sama dengan “pertandingan-pertandingan” yang kita hadapi setiap hari dalam kehidupan kita sendiri? Tidakkah orang bijak pernah bilang: musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri? I’m sick of being overly sensitive because it’s so tiresome. Dan temanku pernah merasa kasihan karena gw begitu fragile.
—
“If this is human nature, what are we to do? An old story that takes place in the Pyrenees – possibly a legend – tells how a certain monk called Savin, who came to collect donations in gold for the chapel he wanted to build, passed by the house of one of the most feared bandits in the region. Since he had nowhere to spend the night, he asked if he could stay there.
The bandit, surprised at the monk’s courage, decided to test him, and asked:
“You have come here to provoke me. You want me to kill you and steal your money and make you a martyr. If the most beautiful prostitute in town came through that door right now, would you be able to think she wasn’t beautiful and seductive?”
“No. But I would be able to control myself.”
“And if a monk came in with gold to build a chapel, would you be able to look at that gold as if it were stones?”
“No. But I would be able to control myself.”
Savin and the assassin had the same instincts — good and evil fought for them, just as they fight for every soul on the face of the Earth. When the evildoer saw that the monk was just like him, he also understood that he was just like Savin, and became converted.
We have good and evil before us, and it is all a matter of control.
Nothing more than that.”
from: http://www.warriorofthelight.com/engl/index.html (issue no: 124 “Human Nature”)
—
“The glory doesn’t always lies in victory, sometime it lies in the deepest part of our devastation – fhd soeprobo”