Archive for the ‘journey within’ Category

We Might As Well Be Strangers

Kalau ada satu hal yang paling gw hold back didunia ini, itu adalah menulis. Gak tahu kenapa. Gw selalu merasa seperti setengah “ketakukan” kalau keinginan nulis itu datang. Tahu kenapa? Karena gw selalu merasa kehabisan energi setelah nulis dan gw ketakukan krn tulisan gw menelanjangi diri gw sendiri. Gw takut sama diri gw sendiri, gw malu bahkan sama diri gw sendiri. Segala hal tentang gw itu inginnya gw simpan rapat – rapat. Diam tinggal di dalam diri gw. Yang kalau semua ini berlalu, berlalu pulalah “kejujuran-kejuran” diri itu.

Aneh, gw selalu dibayangi ketakukan tulisan-tulisan gw dibaca orang. Lucu, tapi gw nulis di blog yang notabene public area gini. Sebenernya gak lucu – lucu amat kok, krn gw bahkan gak berani nulis segalanya tentang gw itu di buku harian! Gw takut seseorang akan menemukan suatu hari nanti. Tahu ‘kan, segala sesuatu yg loe keep sebagai secret suatu hari nanti akan terbuka dengan sendirinya. Ketahuan. Apa-apa yang gw tulis di blog ini atau jurnal-jurnal gw lainnya yang berceceran dimana-dimana adalah hal-hal yang gw gak takut utk diketahui orang. Note-note kecil di block note gw, serpihan-serpihan hati di lembar-lembar buku les, semua itu boleh di lihat orang. Gw siapkan sedemikian hingga kalau-kalau suatu hari itu diketahui orang lain, isinya sudah gw “filter”.

Sedih banget rasanya, gak bisa jujur sepenuhnya sama diri sendiri, apalagi temen-temen baik gw, keluarga terdekat gw, buku harian gw, even blog gw ini yang bahkan keberadaannya hanya diketahui segelintir temen deket. Gw tetep gak berani mengungkapkan segalanya. Gw yang gampang curhat sama orang lain, yang apa-apa ngaduan kayak anak kecil, ternyata gak seterbuka itu. Gw gak sepercaya itu sama orang lain. Bahkan untuk diam-diam jujur sama diri sendiri pun gw gak berani!

I’m wounded by the most foolish things.

Gw Pikir

Gw pikir gw tau tapi ternyata gw gak tau apa – apa

Gw pikir gw ngerti tapi ternyata gw gak ngerti apa – apa

Gw pikir gw memahami tapi ternyata gw gak memahami apa – apa

Gw orang paling sok tau sedunia, gw orang paling sok ngerti sedunia…

Gw gak tau apa-apa…dan ini bikin masalah…(inget Socrates)

Andriy Rusol, rock!

First time I saw him was on the match between Ukraine againts Saudi Arabia in World Cup 2006, June 16th. I was watching the team national anthem when I saw him there. And he just simply took my breath away! I don’t know why? I’ve never heard his name before and I just want to see Sheva’s action in this game. But this man has stole my attention and ever since that I can’t put my eyes of him. And his goal in the 4th minute has stroke the audience. He’s_so_hot! anyway he’s a Capricone, Capricone and Taurus are an excellent match hahaha….Hey, what is it me-looking-for-capricone-guy about? :-D

Emm…Andriy, are you available? :-D

His profile:

http://fifaworldcup.yahoo.com/06/en/w/player/216223_RUSOL_Andriy.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Andriy_Rusol

He’s standing at back second from the far right:

http://www.fcdnipro.dp.ua/content/ru/images/dnipro_medium.jpg

And he’s scoring…!

he's scoring!

Andriy, see you at the Premiership! ;-)

Stay Firmly In Your Destiny

Gw gak bisa menahan rasa sangat terkejut waktu dini hari tadi (Senin, 10 Juli 2006 pkl. 02.00) Zinedine Zidane di kartu merah wasit karena ujug-ujug menanduk dada Marco Materazzi hingga dia jatuh terjengkang. Saat itu gw lagi manyun karena setelah Frank Ribery diganti giliran Thiery Henry yang di istirahatkan padahal gw berharap banyak banget sama mereka mana sebelumnya Patrick Vierra juga sudah ditarik keluar sama Mosieur Domenech. Penonton siaran langsung memang tidak bisa melihat saat insiden itu terjadi karena kamera utama sedang menyorot adegan pergantian pemain itu namun tidak lama disajikan tayangan replay dan disitu barulah terlihat jelas Zidane dan Materazzi yang dalam posisi bertahan hendak memperebutkan bola namun keduanya tidak berhasil dan kemudian terlihat sama-sama berjalan berdampingan saling berbicara. Namun kemudian Zidane berhenti memutar balik, menunggu sebentar Materazzi mendekat lalu menanduk dadanya hingga jatuh terjengkang.

Gw setengah menjerit saat itu: “What’s he doing???”, What’s on his mind???”. “Oh no Zidane, itu kartu merah!” Dan benar, walau wasit tidak langsung menyempritnya dengan keras kartu merah itu akhirnya keluar. Gosh! Zidane kamu tamat (aku baru tahu dari detikcom kalau ternyata wasit pun tidak melihat insiden itu baru setelah melihat replay-lah dia mengambil keputusan). “Arrgh…Materazzi ngomong apa sampai dia emosi gitu??”. Damn, you! Yeah, gw emang ud dari dulu benci ama tuh pemain. Dulu sempet ada kejadian (lupa piala dunia 98 atau 2002) waktu itu dia main kasar banget dan ngejegal pemain Inggris-ku akibatnya dia didepak dengan kartu merah. Wuih, aku seneng banget waktu itu. Makanya pas denger ternyata dia sekarang masih main di PD dan sempet di kartu merahin juga, aku cuman geleng-geleng kepala. Gila tuh orang dari dulu gak sekarang gayanya sama aja.

Paginya dengan rasa penasaran gw pun tanya pendapat temen gw, Ferdi soal insiden itu. Apa mungkin dia emosi karena omongan Materazzi. Dia bilang: mungkin. Dan lalu dengan suara yang tiba-tiba menyusut: Dia kan muslim dan Materazzi kan conggornya emang gak beres. Hoh! gw baru tahu Zidane muslim. Well, oh ok no wonder B nge-fans banget sama dia. Gw pun langsung menyalakan engine andalan: google. I had to find out more about this player (krn gw gak terlalu tahu pemain ini mengingat namanya yang terlalu berkilau dan botak pula jadi gw gak terlalu ngefans. Baru setelah bbrp bulan lalu baca profile-nya dia di Bolavaganza gw pun suka sama profile-nya yang tenang dan humble itu).

Cukup mengejutkan apa yang gw temuin kemudian karena ternyata dia gak sekali itu di kartu merah (makin penasaran krn bukannya selama ini dia termasuk pemain bersih?). Dan hal yang lebih mengejutkan gw lagi, dia selalu di kartu merah karena melakukan tindakan menanduk/menjegal (2 x nanduk, 1 x stamping) pemain lawan secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas (secara fisik).

“Zidane was a member of the French football team in the 1998 FIFA World Cup, scoring two headed goals in the final against Brazil, which ended in a 3-0 victory. This earned France its first World Cup championship and it was also the first time in 20 years that a host had won the tournament. Earlier in the competition he received a red card and a two-game suspension in a 4-0 win over Saudi Arabia for stomping on an opposing player for no apparent reason. Reports from people close to Zidane state that the Saudi player in question had provoked him verbally.”

“Zidane is one of the football icons of his generation and is known to be modest, quiet and admittedly shy. However, Zidane has occasionally shown a quick temper on the pitch. One such display occurred in a 2000/2001 Champions League match between Juventus Turin and Hamburger SV, in which Zidane headbutted Jochen Kientz; he received a red card for this action. He also received a red card in the 1998 World Cup for stamping on a Saudi player. In extra time of the 2006 World Cup final, he head-butted Italy’s Marco Materazzi, allegedly in response to a racial slur.”

Wow..It’s tough to be a Zinedine Zidane. Dan somehow sekarang gw ngerti akan sikapnya yang seperti itu tadi pagi. Seorang yang tenang walau bagaimanapun punya batas-batas ke-sensitivan yang tidak bisa dilanggar. Apalagi setelah membaca wiki dan website lainnya gw semakin tahu kalau batas soal ras dan agama adalah hal yang seringkali mendera dan menekannya sebagai seorang imigran Algeria dan seorang muslim. Jadi hampir bisa gw simpulkan kalau tindakan-tindakannya itu adalah akibat terprovokasi kata-kata lawan.

Gw jadi inget komentarnya Rowien waktu Christiano Ronaldo ujug-ujug mendatangi wasit dari jarak 40 m “mengomentari” pelanggaran yang dilakukan Wayne Rooney sehingga membuatnya di dorong kesamping oleh Rooney akibatnya wasit tidak segan-segan mengganjarnya dengan kartu merah. Dia bilang begini: orang-orang itu kan cerdik-cerdik, Sis. Ya! Ronaldo (yg notebene teman satu timnya di ManU) tahu kalau Rooney sangat temperamental hingga dia “memanfaatkan” insiden tersebut sambil (mungkin) berharap kontribusinya itu bisa lebih memuluskan jalan Portugal ke semifinal. Apa pun itu, dia berhasil. Dan mungkin demikian juga dengan pemain Arab itu di tahun 98 lalu Jochen Kientz di thn 00/01 dan Marco Materazzi dini hari tadi, mereka semua tahu kalau Zinedine Zidane lemah dan teramat sensitive dalam issue-issue sara.

Namun walau detikcom mengomentari hal ini sebagai tindakan terbodoh Zidane dan mungkin juga penggila-penggila bola lain di seluruh dunia (yang tahunya cuma teriakan: Gol!) memakinya. Ini semua secara psikologis sangat bisa di pahami.
Menanggapi hal ini temanku hanya mengomentarinya sebagai: dalam setiap pertandingan pasti ada yang menang dan kalah. Dan gw gak tau mesti mengomentari seperti apa. Adakah memang hanya se-simple itu pertandingan-pertandingan besar ini. Adakah hikmah yang bisa kita ambil? Tidakkah ini sama dengan “pertandingan-pertandingan” yang kita hadapi setiap hari dalam kehidupan kita sendiri? Tidakkah orang bijak pernah bilang: musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri? I’m sick of being overly sensitive because it’s so tiresome. Dan temanku pernah merasa kasihan karena gw begitu fragile.

“If this is human nature, what are we to do? An old story that takes place in the Pyrenees – possibly a legend – tells how a certain monk called Savin, who came to collect donations in gold for the chapel he wanted to build, passed by the house of one of the most feared bandits in the region. Since he had nowhere to spend the night, he asked if he could stay there.
The bandit, surprised at the monk’s courage, decided to test him, and asked:
“You have come here to provoke me. You want me to kill you and steal your money and make you a martyr. If the most beautiful prostitute in town came through that door right now, would you be able to think she wasn’t beautiful and seductive?”
“No. But I would be able to control myself.”
“And if a monk came in with gold to build a chapel, would you be able to look at that gold as if it were stones?”
“No. But I would be able to control myself.”
Savin and the assassin had the same instincts — good and evil fought for them, just as they fight for every soul on the face of the Earth. When the evildoer saw that the monk was just like him, he also understood that he was just like Savin, and became converted.
We have good and evil before us, and it is all a matter of control.
Nothing more than that.”

from: http://www.warriorofthelight.com/engl/index.html (issue no: 124 “Human Nature”)

“The glory doesn’t always lies in victory, sometime it lies in the deepest part of our devastation – fhd soeprobo”

Lost and (never be) Found

“I used to hate nights
but now I dislike morning more often”

Aku sering berpikir, kenapa aku harus menelan begitu banyak kekalahan? Rasanya begitu menyesak di jantungku yang biar tenggorokanku memaksa untuk menelan, rasanya seperti jantungku mau pecah. Kekalahan memang terasa begitu getir di bibirku, walau kupaksa untuk tersenyum sekalipun. Rasanya bikin aku berjengit. Menangis pun gak bisa menghapus rasa sakitnya. Menghapus rasa perihnya. Rasanya begitu sulit untuk memaafkan diri sendiri, yang aku pikir aku bisa lakukan dengan mudah, toh inikan diri sendiri. Tapi yang namanya kenyataan, realita rasanya tetap seperti tamparan keras di pipimu. Bahkan mungkin tonjokan menghantam dadamu. Dan membuatmu begitu sulit bernapas. No matter how hard you try. No matter how wiser you’re growing everyday. Kesesakan itu rasanya tetap menyesakan.

Aku telah berulang kali menepi, mengkontemplasikan ini semua dengan seksama namun hanya sesaat kelegaan itu mendekap. Karena gerhana matahari akan kembali menyergapku keesokan harinya. Iya, gerhana matahari karena memang bukan gelap malam yang kali ini menyergapku melainkan kebutaan di siang hari. Seperti seolah kamu harus berlari bertelanjang diri saat matahari menjelang walau dalam gerhana sekalipun kamu tidak akan dapat menutupi rasa malumu. Walau mungkin semua orang tidak melihatmu telanjang dalam kegelapan siang itu. Tapi dirimu tahu kamu telanjang. Kamu harus mampu menerima dan mengakui rasa malumu saat orang lain tidak mampu melihat ketelanjanganmu. Bahkan kejujuran terhadap diri sendiri pun rasanya begitu menyakitkan.

Adakah aku harus berharap gerhana matahari ini lenyap? Dan membiarkan matahari pagi menerpa kulitku hingga kenyataan diriku menjadi kenyataan juga untuk orang lain? Atau haruskah aku berharap akan datangnya malam lalu segera berpakaian? Walau itu artinya menelan kekalahanku selama-lamanya? Menyimpan realita pahit untuk diriku sendiri? Gak tau. Aku sungguh tidak tahu. Aku hanya berharap film ini segera berakhir dan digantikan dengan film lain. Diriku dengan peranku yang baru. Dan aku gak terlalu peduli apakah aku layak mendapat penghargaan di film ku itu. Adakah aku bermain cantik? Adakah aku menghayati perannya? Oh, God I just want to give in.

The world is spinning without me

Everybody were so busy lately, especialy today. All my friends seem fully occupied with their life. Dan sedihnya gw lagi berasa pengen ditemenin. Irritated banget rasanya even gw ngerti’in banget kondisi mereka. Mungkin gw harus coba ambil sisi baiknya aja, kali ini keresahan gw mungkin harus gw tuangin ke blog aja instead of sharing it with my friends. I’ve read that: writting is a good therapy. Well I’m about to prove it now.

C U then, I’ll keep you posted.

Until one morning I’ll wake up and find I’m thinking about something else

Gw terkejut sewaktu baca bagian ini di buku The Zahir – Paulo Coelho. This is exactly same feelings and behavior that I do everytime I feel my heart is broken. I called this:  Kegilaan Sementara Setelah Putus Cinta.

“For a while, I’ll think obsessively about her, I’ll become embittered, I’ll bore my friends because I ever talk about is my wife leaving me. I’ll try to justified what happened, spend days and nights reviewing every moment spent by her side, I’ll conclude that she was too hard on me, even though I always tried to do my best. I’ll find another woman. When I walked down the street, I’ll keep seeing women who could be her. I’ll suffer day and night, night and day. This could take weeks, months, possibly over a year or more.

Until one morning, I’ll wake up and find I’m thinking about something else, and then I’ll know the worst is over. My heart might be bruised, but it will recover, and become capable of seeing the beauty of life once more.” (p. 16-17)

Hal itu yang selalu gw lakukan setiap kali gw patah hati. And it’s such a relieved that even a great writer like Paulo Coelho use the same words as mine. I felt no longer alone.

Return top