Archive for the ‘journey within’ Category

The tears and you

Do you know that one way to know the closeness of someone in relation to others is through tears?

Do you ever wonder why would you cry for someone, but not for others over the same thing?

Have you ever think of why someone can hurt you, but others just can’t, no mater how cruel they might be to you?

You know, you can only get hurt by someone you care so much.

And how special that someone means to you is measured by cry.

Can she/he bring you into tears?

You might hide your tears to some, but for others, you just couldn’t help it.

Why is it feel so hurt..

A distant view

Distance. We all need distance.

Space.  We all need space.

Just like two words apart by space, which make them  readable and give meaning.

Like a distance we put between emotional rage and logical view?

After all, isn’t it space that contain our planet within?

My unwanted baby doll

I don’t like baby doll. So when my parent gave me that hard-case-baby-pink-doll with mechanical blink eyes and exasperating cry, I immediately put it away from my bed.  It smell bad. I don’t like plastic odor. I felt so upset that they bought me that toy. I thought they knew that I only want a teddy bear doll with soft skin or a little car toy than a rigid, smell, mechanical doll which isn’t hug able like that. I left that doll untouched for days, until one day its mechanical blinks and cry intrigued me. 

Why it can blink and cry like that? I flipped the doll up and down and pulled its pacifier ins and outs, over and over to let it blink and cry continuously. I wonder, where did the crying sound come from? I pulled the battery compartment at its back and found a transparent mini disc inside. Then with great wonder, I examined it and saw a soft-white track inside the disc. Could it be a tape trapped inside the disc? Daddy had a lot of cassettes and music came out of it. But where is the head? I know what tape player’s head looked like but there was none like it in the compartment. Or is it possible that the sound stored in all area of the disc? In this transparent area?? How? Is that possible? Where did it hide the sound? 

But the little me can’t find any satisfying answer to that. So I kept the mini disc with me wherever I go and admired its magic. A transparent mini disc that hides sound inside it.

Si hari yang moody

Hari ini aku jalanin dengan banyak “mutar arah”.  Pagi-pagi bangun dengan semangat untuk ketemu oma siang ini, ngobrol ngalur ngidul. Tapi begitu sampai kantor batal karena situasi yang tiba-tiba menjadi rumit. Siang hari waktu keluar dari Menara BCA batal muter di Bunderan HI jadinya muter di depan Mall Ambasador. Lalu sorenya setelah siap-siap pulang nebeng teman, batal karena teman ganti arah, jadi aku gak jadi pulang.

Siang tadi sepanjang perjalanan ke kantor, aku kembali menggeluti pikiranku semalam, tentang baru ngeh-nya aku akan betapa tertutupnya aku. Oma sudah bilang itu beberapa kali tapi aku gak benar-benar memperhatikan ucapannya, she said am tightly closed. Aku baru benar-benar memperhatikan setelah membaca buku yang ditulis temanku, mbak Merry Magdalena – Situs gaul gak cuma buat ngibul. Dalam salah satu bab disitu ditulis tentang tips dan trik untuk memperluas pergaulan yang ditilik dari sisi konten profil di Facebook. Disebutkan kalau profil kita disarankan lebih informatif gak hanya berisi informasi standar saja tapi juga gak berarti harus menggumbar informasi personal seperti nomor hp dan alamat rumah. Karena dengan profil yang lebih informatif orang lain dapat memiliki gambaran yang lebih jelas tentang siapa diri kita.

Disitu aku tercenung dan membayangkan profilku sendiri, informasi yang kusajikan cuman 3 baris utama lalu foto profil pun tak pernah berubah. Dulu pernah menuliskan interest juga sih, tapi lalu ku hapus karena paranoid (melirik diam-diam kearah para social engineer yang lagi asyik nggali2). Dari situ akan kentara banget kalau aku tidak menempatkan diriku pada posisi “mudah didekati”. 

Itu baru di dunia maya. Di dunia nyata aku sama tertutupnya juga. Masalahnya adalah aku tidak merasa aku itu tertutup. Menurutku,  aku hanya super hati-hati. Aku selalu merasa kalau diluar sana itu gelap dan gak bisa ditebak. Tapi aku juga bukan pemain aman karena aku juga bisa menjadi avonturir dan nekat juga. Namun karena seringkali hasilnya mengerikan, jadi aku memilih kembali ke posisi super hati-hati lagi.

Namun di bis siang tadi, aku berpikir, tapi kan segala sesuatu bisa berubah kapan aja, apa pun itu. Bahkan untuk sesuatu yang kamu pikir akan selalu ada. Iya, pengalaman kehilangan orang-orang yang aku sayang, yang kebanyakan dengan tiba-tiba, mungkin sedikit banyak memengaruhi bawah sadarku untuk menjadi ekstra hati-hati, yang ujung-ujungnya membuat aku jadi super tertutup. Aku gak membangun tembok disekitarku lho, aku hanya tidak buka pintu dan jendela.

Aku senang dengan “penemuan” ini. Kesadaran bahwa aku itu sangat tertutup membuka pemahaman baru tentang diriku sendiri. Jadi kalau hari ini aku tertutup besok aku terbuka. Karena aku percaya kalau segala sesuatu itu pasti memiliki 2 sisi, terbuka/tertutup, siang/malam, tangis/tawa, tua/muda, gelap/terang yang memiliki “saat memutar balik”. Seperti bola yang terjun ditarik gravitasi, sesaat setelah menyentuh tanah ia akan mental melawan gravitasi, sebelum lalu ditarik lagi dan begitu seterusnya sampai selesai di tanah. Jadi mengetahui bahwa hari yang tertutup itu akan “memutar arah” menuju yang terbuka, membuat hatiku tenang. Tadi pagi aku gelisah, sore ini aku tenang…

oh, si hari yang moody

Semesta yang sunyi senyap

Mamime sedang tidak enak badan.

Energinya menjadi sangat terbatas

yang mesti dia bagi antara menahan rasa sakit

dan menulis buku cerita.

Aku gak lagi tega memintanya “mendongeng” untukku.

Seketika semesta ini menjadi begitu sepi dan senyap.

Dan aku menggigil kesepian di pekatnya gelap.

Nge-blog numpang vs Nge-blog dgn domain sendiri

Cuma pembicaraan pribadi. Hal yang sering kali mengganjal kalau saya mendengar pembicaraan tentang aktivitas ngeblog.

Kasus: “pada akhirnya semua org akan mati, dalam hal ini mana yang lebih baik dipilih: ngeblog di penyedia blog atau ngeblog di domain sendiri?”

Ngeblog di penyedia blog:

  1. blog kamu dirawat oleh orang lain sehingga keberadaannya akan tetap terjaga paling tidak sampai penyedia blog-nya tutup.
  2. gak perlu bayar sepeser pun. gak perlu ada budget perawatan domain dan hosting.
  3. selama perusahaannya masih berdiri, semua hal tentang kamu masih bisa diakses dunia.
  4. sekiranya apa yang kamu tulis berguna buat dunia, misalnya kamu nulis resep sop kepiting paling lezat sedunia atau nemuin obat HIV/AIDS jauh sebelum para ilmuwan menemukannya, maka dunia akan menghubungi si penyedia jasa blog untuk tetap membuat blogmu online. Atau blog kamu paling gak di mirror oleh penggagummu, sehingga “kamu” masih tetap eksis di dunia.
  5. tapi kalau apa yang kamu tulis itu gak (dianggap) penting untuk dunia, maka blog kamu cuma akan jadi “sampah” di internet aja. Kayak bangkai-bangkai satelit di atas sana.
  6. kamu berkontribusi akan makin sempitnya area tempat tinggal di bumi karena bumi bakal penuh sama SAN-nya para perusahaan penyedia blog.
  7. kamu gak bisa punya nama blog yang aneh-aneh dan seru, yang mencerminkan kamu banget.
  8. blog kamu gak bisa kamu hack sampai lemes (kalau kamu hacker).

 

Ngeblog di domain sendiri:

  1. blog kamu adalah milikmu sendiri. nama domainnya adalah tentang kamu seorang. 
  2. kamu bisa hack sampe lemes atau kamu biarin di setting-an default dan ongkang-ongkang kaki (habis setup-nya juga gampang).
  3. blog kamu rasanya sudah seperti darah daging kamu sendiri. bangga bukan main pastinya.
  4. (bisa jadi) kamu jadi makin rajin nuangin isi pikiran kamu ke dalamnya, seperti resep sup kepiting lezat yang biasa kamu bikin atau racikan obat HIV/AIDS yang kamu teliti sendiri.
  5. tapi kamu mesti sediain dana untuk ngerawat blog kamu. Di satu sisi nambahin daftar pengeluaran (bisa jadi sulit kalau kamu tiba-tiba nganggur misalnya), disisi lain blog kamu bisa jadi alasan kenapa kamu tetap kerja di pekerjaan kamu sekarang.
  6. waktu kamu mati, blog kamu cuma akan bertahan sampai masa kontrak hosting dan domain kamu kedaluarsa.
  7. kalau isi blog kamu (dianggap) penting sama dunia (berharap mereka menemukannya sebelum masa kontrak hosting/domain-nya habis), mereka akan ramai-ramai “menyedot” feed-mu, menyelamatkannya. jadi, tampilkan rss feed-mu, atau bikin “planet”.
  8. namun kalau isi blog kamu gak penting, saat kontrak hosting/domain mu habis dan dunia gak sempat menemukannya, blog mu gak akan jadi “sampah” di internet. dalam hal ini kamu mereduksi jejak karbon kamu ‘kan? namun begitu lenyap jugalah “keberadaanmu” di dunia ini.

Jadi?

How little she knows

just found out a surprising fact today, that she shared the same birthday with her late grandma.

while a few days ago, she also learned that the great monkey’s birthday, Hanuman, will be commemorated on the same day as her birthday this year. Could there have been any coincidence between her name and his? Was that give her mother any sort of idea to named her so?

it feels so strange….on how little she knows about her root. how little she knows of her surrounding facts. is it because they leave her too fast or was it because she put her attention elsewhere then, being a basketball star and John Stamos’s fan?

Return top