Diri kitakah sahabat itu?
- November 2nd, 2007
- Posted in journey within
- Write comment
Pernah gak sih loe merasa begitu terbawa oleh perasaan loe sendiri? Sehingga hal ini membuat loe bingung dan resah. Beberapa hari ini gw begitu. Gw menemukan bahwa ternyata ada begitu banyak hal yang gw gak tahu tentang diri gw sendiri yang bahkan saat gw mengetahuinya pun gw merasa gak setuju dengan apa yang gw temukan itu. Jadi inget kutipan di buku “Do You Think What You Think You Think?” yaitu, “I have opinions of my own—strong opinions—but I don’t always agree with them – George W. Bush”
Gw ternyata begitu keukeuh dan terpesona dengan yang namanya klasifikasi, label atau definisi umum. Sampai-sampai kalau gw mendapati diri gw sendiri out-of-label or out-of-classification, gw berantem. Yes, berantem dengan diri gw sendiri. Rasanya gw masih jauuh banget dari konsep yang namanya Menerima diri sendiri. Kok, gw begini? Kok, gw gak begitu? Kok, gw gak bisa nerima itu? Kok, gw bisa nerima ini? Kok, bisa-bisanya gw begini?? Semuanya campur aduk jadi satu, gak jelas, akibatnya gw pun gak bisa mendefinisikan diri gw sendiri seperti yang gw mau. Kebayang gak sih, loe mesti mendefinisikan diri loe menurut apa adanya elo, sementara loe gak setuju dengan “ke apa-adaan elo” itu. Parah.
Saking begitu banyaknya hal, beberapa lebih parah karena mereka lebih krusial dan esensial, gw terhenyak dengan sebuah tulisan di sebuah blog, yaitu: Bersahabat dengan diri sendiri. Ini rasanya lebih gila lagi. Sahabat, seperti apa sih mereka bentuknya? Seperti apa sih mereka akan bicara kepada kita? Seperti apa sih mereka akan memperlakukan kita?
Gw pun mencoba menjawab. Bentuk mereka bisa bermacam-macam tapi yang pasti kamu akan merasa saangat nyaman ada bersama mereka. Kenapa? Karena penghakiman gak akan ada dalam mulut mereka, they’re just simply sit comfortably at your side. Loe diam, mereka akan diam atau loe diam, mereka akan bercerita. Loe bicara, mereka pun diam atau loe bicara, mereka pun akan bicara menanggapi. U and him/her are simply meant to be together. Sharing the magnificent of lives. Mereka akan bicara dengan lembut dan penuh perhatian kepada kita. Kadang-kadang bersemangat, berapi-api karena senangnya. Tapi tidak memaki dan mencemooh kita karena apa adanya kita. Karena mereka mengenal kita, terlebih adalah karena mereka ingin mengenal kita, selamanya. They’re won’t take us for granted karena mereka tahu dalam diri kita ada begitu banyak hal yang tersembunyi atau belum tampak dihadapan mereka bahkan dihadapan diri kita sendiri. Karena mereka menyukai petualangan, mereka ikut berpetualang bersama kita, menemukan diri kita yang lain, yang baru, yang belum terungkap. Dan sahabat akan memperlakukan kita dengan hormat karena kita sangat berarti untuk mereka. Terlebih adalah karena mereka pun menghormati diri mereka sendiri. Seorang yang terhormat akan memperlakukan sahabatnya juga dengan penuh hormat. Karena sahabat-sahabat akan bercerita bersisian atau berhadapan di tempat duduk yang sama. Mereka tidak akan meletakan yang satu dibawah kaki mereka. Lalu adakah gw telah memperlakukan diri sendiri seperti itu? Seperti seorang sahabat?