Archive for November, 2007

Special Six Echo(?)

Aku istimewa

sangat istimewa

Aku mendapat

apa yang tidak pantas kudapat

Diinginkan

lebih dari segalanya

Aku terkesima

sangat terkesima

Aku dicintai

terlalu dicintai

tampaknya aku ini anak emas

Aku istimewa

Kenapa?*
*/ pertanyaan yang juga dilontarkan Lincoln Six Echo “Special? Why am I special?” (The Island)

Sepak Tendang

Rasanya capek sekali

Semua ini cuma aku yang buat

Mau rasanya kutendang karung ini

Dia menggayuti kemana saja

Mau rasanya kusepak bola busuk ini

Dia menghalangiku kemana saja

Ku sepak! Ku tendang!

Pergi…ku mohon…

ku mohon…

Pamrihnya cinta

Cintaku pakai pamrih

Dia memberi berharap kembali

Dia datang dan gak mau pergi

Seperti pengemis dimuka pintu

Dia menunggu dikasihani

Siapa yang sudi?

Hari begini pakai pamrih

Lebih baik kamu pergi

dan hidup bagai zombie

Letting Go, Accept it

Gw seringkali bertanya-tanya “Kenapa sesuatu terjadi?”, “Kenapa kok bisa begini atau begitu?”. Well, disamping itu adalah sikap kritis analitis untuk satu dan banyak hal tapi ternyata kita mesti hati-hati dengan sisinya yang lain. Karena orang yang sering bertanya-tanya, “Kenapa?”, “Kenapa?” adalah mereka yang tidak bisa menerima keadaan sebagai mana adanya. (uh..uh..I can hear myself now asking, “what is reality”?. Sebagai mana adanya itu yang spt apa?) Kata-kata itu gw dapet dari Oma kemarin waktu kita makan siang bareng di Rice Bowl, Ratu Plaza. i think she’s right. And she also think that it_is_right for herself at least. Hmm…ya, it seems people like that just can’t detach them self from the problem. They seem always see things problematic. I wonder maybe they are them self is part of the problem or possibly they_are_the_problem itself?

Kalau bagitu tidak tertutup kemungkinan bahwa pertanyaan-pertanyaan gw itu jawabannya ada dalam diri gw. Kalau gw adalah bagian dari masalah yang gw pertanyakan, kemungkinan besar, gw bisa jadi jawaban untuk pertanyaan itu. Are “letting go” and “accepting” the answer?

Dan ruang itu pun kosong..

Semalam aku mencoba bicara dengan diriku. Mendengarkan apa yang ia bicarakan tanpa pretensi, tanpa kerangka pikiran bawaan. Hanya mendengar, cuma mendengar. Hasilnya? gak sempurna. Aku yang diriku ceritakan itu “tampak” absurd, “tampak” kabur dan gak jelas. Tapi nyata dan saangat nyaman berada bersamanya.

Yang terjadi tadi malam seperti pengungkapan diri yang sebenarnya yang setelahnya membuat kita sama-sama terhenyak dan kelu. There are too many to swallow. We just sitted opposite one another last nite and let all truths revealed itself. Rasanya seperti kosong melompong. Seperti rumah kosong yang telah ditinggalkan penghuninya yang telah tinggal disana bertahun-tahun lamanya. Sehingga yang tinggal hanya keheningan dan kekosongan yang tampaknya akan abadi. Yang tinggal hanya kenangan-kenangan yang pernah mengisinya.

Tapi lalu rumah itu kemudian ditinggali orang lain, keluarga lain. Segera sesudahnya keramaian, kebahagiaan, kesedihan dan air mata mengisi setiap relung ruangnya. Perjalanan baru telah dimulai, hidup baru telah datang dan semua pun tersenyum karena memang tak seharusnya rumah kosong tak berpenghuni dan tak seharusnya seseorang ditinggalkan tanpa tempat tinggal di pinggir jalan. Begitu pun diriku, segala yang telah dikeluarkan, segala kekosongan yang disebabkan oleh semua pengungkapan itu akan tinggal beberapa waktu sebelum kembali terisi dengan hal-hal yang baru. Kehidupan baru. Karena tak seharusnya jiwa ada tanpa kehidupan, tak seharusnya hidup ada tanpa ruang jiwa yang memeluknya.

Diri kitakah sahabat itu?

Pernah gak sih loe merasa begitu terbawa oleh perasaan loe sendiri? Sehingga hal ini membuat loe bingung dan resah. Beberapa hari ini gw begitu. Gw menemukan bahwa ternyata ada begitu banyak hal yang gw gak tahu tentang diri gw sendiri yang bahkan saat gw mengetahuinya pun gw merasa gak setuju dengan apa yang gw temukan itu. Jadi inget kutipan di buku “Do You Think What You Think You Think?” yaitu, “I have opinions of my own—strong opinions—but I don’t always agree with them – George W. Bush”

Gw ternyata begitu keukeuh dan terpesona dengan yang namanya klasifikasi, label atau definisi umum. Sampai-sampai kalau gw mendapati diri gw sendiri out-of-label or out-of-classification, gw berantem. Yes, berantem dengan diri gw sendiri. Rasanya gw masih jauuh banget dari konsep yang namanya Menerima diri sendiri. Kok, gw begini? Kok, gw gak begitu? Kok, gw gak bisa nerima itu? Kok, gw bisa nerima ini? Kok, bisa-bisanya gw begini?? Semuanya campur aduk jadi satu, gak jelas, akibatnya gw pun gak bisa mendefinisikan diri gw sendiri seperti yang gw mau. Kebayang gak sih, loe mesti mendefinisikan diri loe menurut apa adanya elo, sementara loe gak setuju dengan “ke apa-adaan elo” itu. Parah.

Saking begitu banyaknya hal, beberapa lebih parah karena mereka lebih krusial dan esensial, gw terhenyak dengan sebuah tulisan di sebuah blog, yaitu: Bersahabat dengan diri sendiri. Ini rasanya lebih gila lagi. Sahabat, seperti apa sih mereka bentuknya? Seperti apa sih mereka akan bicara kepada kita? Seperti apa sih mereka akan memperlakukan kita?

Gw pun mencoba menjawab. Bentuk mereka bisa bermacam-macam tapi yang pasti kamu akan merasa saangat nyaman ada bersama mereka. Kenapa? Karena penghakiman gak akan ada dalam mulut mereka, they’re just simply sit comfortably at your side. Loe diam, mereka akan diam atau loe diam, mereka akan bercerita. Loe bicara, mereka pun diam atau loe bicara, mereka pun akan bicara menanggapi. U and him/her are simply meant to be together. Sharing the magnificent of lives. Mereka akan bicara dengan lembut dan penuh perhatian kepada kita. Kadang-kadang bersemangat, berapi-api karena senangnya. Tapi tidak memaki dan mencemooh kita karena apa adanya kita. Karena mereka mengenal kita, terlebih adalah karena mereka ingin mengenal kita, selamanya. They’re won’t take us for granted karena mereka tahu dalam diri kita ada begitu banyak hal yang tersembunyi atau belum tampak dihadapan mereka bahkan dihadapan diri kita sendiri. Karena mereka menyukai petualangan, mereka ikut berpetualang bersama kita, menemukan diri kita yang lain, yang baru, yang belum terungkap. Dan sahabat akan memperlakukan kita dengan hormat karena kita sangat berarti untuk mereka. Terlebih adalah karena mereka pun menghormati diri mereka sendiri. Seorang yang terhormat akan memperlakukan sahabatnya juga dengan penuh hormat. Karena sahabat-sahabat akan bercerita bersisian atau berhadapan di tempat duduk yang sama. Mereka tidak akan meletakan yang satu dibawah kaki mereka. Lalu adakah gw telah memperlakukan diri sendiri seperti itu? Seperti seorang sahabat?

Return top