Lost and (never be) Found
- July 3rd, 2006
- Posted in journey within
- Write comment
“I used to hate nights
but now I dislike morning more often”
Aku sering berpikir, kenapa aku harus menelan begitu banyak kekalahan? Rasanya begitu menyesak di jantungku yang biar tenggorokanku memaksa untuk menelan, rasanya seperti jantungku mau pecah. Kekalahan memang terasa begitu getir di bibirku, walau kupaksa untuk tersenyum sekalipun. Rasanya bikin aku berjengit. Menangis pun gak bisa menghapus rasa sakitnya. Menghapus rasa perihnya. Rasanya begitu sulit untuk memaafkan diri sendiri, yang aku pikir aku bisa lakukan dengan mudah, toh inikan diri sendiri. Tapi yang namanya kenyataan, realita rasanya tetap seperti tamparan keras di pipimu. Bahkan mungkin tonjokan menghantam dadamu. Dan membuatmu begitu sulit bernapas. No matter how hard you try. No matter how wiser you’re growing everyday. Kesesakan itu rasanya tetap menyesakan.
Aku telah berulang kali menepi, mengkontemplasikan ini semua dengan seksama namun hanya sesaat kelegaan itu mendekap. Karena gerhana matahari akan kembali menyergapku keesokan harinya. Iya, gerhana matahari karena memang bukan gelap malam yang kali ini menyergapku melainkan kebutaan di siang hari. Seperti seolah kamu harus berlari bertelanjang diri saat matahari menjelang walau dalam gerhana sekalipun kamu tidak akan dapat menutupi rasa malumu. Walau mungkin semua orang tidak melihatmu telanjang dalam kegelapan siang itu. Tapi dirimu tahu kamu telanjang. Kamu harus mampu menerima dan mengakui rasa malumu saat orang lain tidak mampu melihat ketelanjanganmu. Bahkan kejujuran terhadap diri sendiri pun rasanya begitu menyakitkan.
Adakah aku harus berharap gerhana matahari ini lenyap? Dan membiarkan matahari pagi menerpa kulitku hingga kenyataan diriku menjadi kenyataan juga untuk orang lain? Atau haruskah aku berharap akan datangnya malam lalu segera berpakaian? Walau itu artinya menelan kekalahanku selama-lamanya? Menyimpan realita pahit untuk diriku sendiri? Gak tau. Aku sungguh tidak tahu. Aku hanya berharap film ini segera berakhir dan digantikan dengan film lain. Diriku dengan peranku yang baru. Dan aku gak terlalu peduli apakah aku layak mendapat penghargaan di film ku itu. Adakah aku bermain cantik? Adakah aku menghayati perannya? Oh, God I just want to give in.