Archive for February, 2006

Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati

Rasanya begitu berantakan padahal tadinya gw merasa baik-baik aja. Tapi ternyata fitnah itu memang tajam. Begitu menyakitkan dan begitu menusuk. Gak mudah untuk tetap tenang saat kapalmu terombang-ambing badai dan sebentar lagi akan karam. Mungkin seperti kepanikan di Titanic? Kamu berdiri diujung geladak berpengangan erat sementara kamu melihat semua temanmu, orang-orang disekitarmu seketika merosot jatuh ke kedalaman laut. Kamu masih berpengangan dan merasakan setiap menit yang berlalu, merasakan kapal itu membawamu jatuh kedalam. Kamu tetap tenang karena kamu pikir kamu bisa berenang walau mungkin gak terlalu lama karena cepat atau lambat kamu akan kelelahan namun setidaknya kamu masih berharap hidup. Namun asa itu seketika tercabik saat jeritan minta tolong itu mengoyak telinga hatimu. Mereka yang berteriak kepadamu, memohon uluran tanganmu. Tanganmu tak sejauh itu. Kamu tahu waktumu akan tiba. Beberapa menit atau bahkan beberapa detik lagi kamu akan bergabung bersama-sama mereka tercerai-berai dilautan maha luas itu. Hanya saja suara didalam hatimu mengatakan belum saatnya. Tak perlu kamu melompat dan terjun kesana, ikutilah saja kapal ini, dan dia akan membawamu tenggelam ke kedalaman.

Dan aku masih disini, berpengangan pada tiang palka ini perlahan namun pasti badan kapal yang berat ini membawaku serta kedalam. Dan dibawah sana jerit-jerit menghujat itu terdengar: “apa yang kamu cari?!”, “kenapa kamu begitu erat berpengangan diatas sana?! tidakah kau ingin menjangkaukan tanganmu kearah kami?!” “tolonglah kami!” “kenapa kau begitu setia pada kapal karam ini?!”. Sebentar lagi, senyumku dalam hati. Satu jam lagi, satu menit lagi, satu detik lagi aku akan bersama-sama kalian.

*/ postingan ini di dramatisir dengan iringan:

1. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – tableaux for piano in D major op 39 no 9 (3:23)
2. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – morceaux (6) for piano 4 hands op 11 scherzo (2:54)
3. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – morceaux (6) for piano 4 hands op 11 slava (4:11)
4. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – morceaux de fantasie (5) for piano op 3 no 2 (3:47)
5. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – piano concerto no 2 in C minor op 18 III allegro scherzando (11:44)
6. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – prelude in G minor op 23 no 5 (3:53)
7. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – prelude in G sharp minor op 32 no 12 (3:15)
8. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – rhapsody on a theme of paganini (2:44)
9. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – sonata for cello and piano in G minor op 19 II Allegro scherzando (6:45)
10. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – symphonic dances for orchestra op 45 III lento assai (13:13)
11. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – symphony no 2 in E minor op 27 III adagio (12:00)
12. SERGEI RACHMANINOFF (1873-1943) – vocalise (6:10)

*/ thanks, Srie for sharing your collection.

My Line, Your Line, Our Lines

Dan sekali lagi aku merasa drop begitu sangat saat aku harus menjelaskan kepada mereka seperti apa kriteria seorang pujaan hati ideal buatku. Terus terang ini adalah salah satu topik yang aku sendiri gak bisa jelaskan karena disamping kriteriaku bisa berubah-ubah hal ini hanya akan menghabiskan begitu banyak energi dan perasaan saat mencurahkannya. Dan biasanya diakhir pembicaraan hal seperti itu tidak akan pernah mencapai *kesepakatan* pemahaman bersama karena at the end kita semua akan tetap bersikukuh pada pendapat kita masing-masing tentang seperti apa yang namanya pujaan hati ideal. Dan semua itu akan terus terjadi selama kita tidak mengetahui, menghargai dan mengembangkan batasan-batasan diri kita dan orang lain.

Bounderies. aku gak sengaja baca buku itu di ICRP kira-kira sebulan lalu. Dari buku itu aku jadi mengerti kenapa aku suka memendam kekecewaan. Dan bukannya menerima kenyataan bahwa aku bisa dan sah untuk merasa kecewa/sakit hati, aku simply menyalahkan diriku sendiri karena aku tidak bisa memenuhi standard orang lain, tidak bisa sepenuhnya setuju atas pendapat org lain, tidak membiarkan orang lain bahagia atas diriku. Aku pun lalu menjatuhkan dakwaan *sensi* atas diri aku sendiri, payah, menyedihkan dlsb. Itu semua aku lakukan dan aku simpan sebagai kemarahan yang terpendam yang terlalu takut untuk aku keluarkan karena aku takut dianggap menyakiti orang lain, dianggap bersikap gegabah, bebal atau tidak bijaksana. Aku jadi takut (dan menghindari) konflik.

Namun sekarang sedikit demi sedikit aku mengerti bahwa itu adalah batasan-batasanku yang aku hadapi. I’m dealing with my boundaries, I’m gradually seeing my boundaries now. Aku jadi mengerti kenapa waktu itu aku begitu berbeban hati saat secara refleks aku menjauhkan wajahku dari wajah teman laki-lakiku yang mendekat secara tiba-tiba. Saat itu aku merasa sangat bersalah krn bersikap spt itu didepannya mengingat dia adalah teman baikku. Orang baik bukan some dangerous stranger, aku pun menyalahkan diriku sebagai angkuh dan tidak bersahabat. Gak henti-hentinya aku menyalahkan diri aku sendiri atas kejadian itu, aku berpikir dia pasti menangkap reaksi menjauh tiba-tiba itu. Dia pasti menganggap aku ke-gr-an. Namun ternyata itu adalah batasan ruangku yang aku *lihat*. Aku merasakan dia melanggar batas ruangku. Itu sebabnya aku bisa membiarkan orang-orang yang berbeda untuk bisa lebih dekat kebatas fisikku. Kekasih, teman, sahabat, apakah itu laki-laki atau perempuan semuanya berada dalam jarak yang berbeda-beda kebatas fisikku. Seorang kekasih mungkin bisa lebih dekat ketimbang teman biasa laki-laki atau orang asing bahkan akan lebih jauh lagi jaraknya.

Demikian juga aku jadi mengerti kenapa aku bersikap begitu defensif saat teman-temanku memasang-masangkan aku dengan seseorang yang mereka kenal. Mereka begitu kecewa saat aku telak-telak menolak tawaran itu, mereka menganggap aku terlalu defensif dan gak memberikan kesempatan pada orang itu untuk mengenalkan dirinya kepadaku. Dalam hati aku menjerit, Tuhan, apakah sebegitu parahnyakah aku? Aku percaya bahwa setiap orang mempunyai hak untuk menjelaskan siapa dirinya, punya hak untuk diterima sebagai mana apa adanya mereka. Namun bukan itu maksudku menolak hal tersebut. Aku pribadi tidak melihat ada yang salah dalam diri orang itu tapi apakah aku salah kalau aku tidak melihat diriku tertarik padanya?

Hal itu terus terjadi walaupun aku telah mengambil sikap diam dan mencoba berpikir postif bahwa mereka hanya ingin membantuku menemukan yang terbaik. Mereka adalah teman-teman baikku yang gk berkeinginan menjerusmuskanku kedalam keburukan. Dan semua itu berjalan dengan baik hingga siang tadi mereka kembali mengungkitnya. Dan sekali lagi aku harus menghadapi dakwaan *too defensif* yang mereka jatuhkan atas diriku. Setengah mati aku mencoba menjelaskan alasan-alasanku namun seperti yang kuduga semua berakhir tanpa kesepakatan damai. Aku kembali lesu dan menyudut kembali secara diam-diam diliputi kemarahan dan kesedihan yang teramat sangat. Aku menangis karena hal itu. Rasanya seperti ingin menghancurkan diri sendiri yang gak juga mampu menerima sisi baik dari sikap mereka. Aku bisa melihat sisi baik itu namun mengapa tidak bisa menjejalkannya begitu saja sebagai satu-satunya solusi dari konflik bathin berkepanjangan ini.

Lalu akupun ingat akan konsep boundaries itu. Aku ternyata harus menerima kenyataan bahwa mereka telah melanggar batas emosionalku. Mereka tidak sadar telah melaluinya karena aku juga tidak dengan segera sadar dan mengingatkan mereka akan hal itu. Sikapku yang too defensif itu seperti bola yang meluncur balik ke arah pelemparnya. Semakin keras kita melempar sebuah bola ke arah tembok maka akan semakin keras pula bola itu memantul kembali kepada kita. Kini aku hanya tinggal merangkai kata-kata yang akan kupakai untuk menjelaskan hal ini kepada mereka. Karena besar dan luasnya ruang emosi kita tidaklah sama dengan besarnya ruang emosi orang lain. Ya, batas-batas emosi tersebut bertumbuh, kita dapat mengendalikan luas lebarnya dengan terlebih dulu melihat batas-batas kita tersebut dengan jelas kemudian melihat dan menghargai batas-batas orang lain dan secara bersama-sama mengkomunikasikan batas-batas tersebut hingga kita bisa hidup berdampingan dengan damai yang sejati. Yang sering kali terjadi adalah kita menjadi begitu permisif sehingga membiarkan orang lain menginjak-injak batas kita atau melakukan pembenaran pribadi atas sikap hidup orang lain yang berbeda. Peperangan adalah dampak dari kebenaran tunggal sepihak yang dipaksakan atas hidup orang lain dan penindasan/penjajahan adalah akibat yang diterima dari sebuah sikap membiarkan orang lain melanggar batas-batas kita. Kedua belah pihak mungkin saja sama-sama tidak sadar bahwa mereka melanggar batas org lain atau mereka sebenarnya memiliki batas.

Itulah sebabnya mengapa batas-batas tersebut harus dikomunikasikan dan dari situ dikembangkan sikap menghargai garis batas satu sama lain. Konsep batas bukan dimaksudkan untuk mengkotak-kotakan manusia dalam kehidupannya namun justru untuk menciptakan kebahagian bersama yang sejati, kedamaian yang tidak semu, ke pemakluman yang tulus. Aku jadi ingat romo Frans Magnis Suseno dan Aa Gym pernah sama-sama menyatakan pada kesempatan yang berbeda bahwa dalam perbedaan bicarakan persamaan (persamaan bukan penyamarataan). Ya, menurutku itu benar karena dengan demikian hati kita akan lebih tenang, lebih tentram dan pikiran akan lebih jernih untuk mengkomunikasikan perbedaan. Sehingga peristiwa protes berkepanjangan pembuatan karikatur Nabi Muhammad s.a.w di sebuah tabloid Denmark tidak perlu terjadi kalau saja semua pihak bisa menghargai batas-batas masing-masing entitas didunia ini. Buat saudara muslim segala hal yang mengarah pada pewujudan visual orang-orang suci dalam agama mereka adalah sebuah pelanggaran berat sementara buat saudara Kristen pewujudan/intepretasi visual orang-orang suci dijadikan salah satu jalan untuk memuji, hal yang sama juga berlaku untuk saudara yang beragama Budha, patung Budha bukan hanya suci namun bahkan dianggap karya seni dan dipuja oleh banyak orang diseluruh dunia. Dan semua itu akan menjadi benturan keras dan konflik yang berkepanjangan jika agama yang satu tidak menghargai agama yang lainnya. Kristen dan Budha bisa menganggap Islam tidak mempunyai jiwa seni visual yang tinggi sebaliknya Islam bisa menuduh Kristen dan Budha menyembah berhala. Hal yang sama terjadi saat pers berlindung dibalik hukum kebebasan pers dan semua itu akan terus berbenturan selama belum ada rekonsiliasi dari semua pihak untuk mencari titik temu yang sejati.

Aku terdiam membaca tulisanku kali ini dan teringat akan kejadian beberapa waktu yang lalu saat aku menanyakan kepada saudara sepupuku apakah aku boleh mengajak anaknya yang berumur 2.5 th kekantorku. Suaminya melarang dan aku benar-benar kecewa karena aku sungguh-sungguh kangen dengan keponakanku itu dan merasa tidak dipercaya sementara aku pun sudah sadar kalau keponakanku itu sangat moody sehingga malamnya bisa bilang mau, paginya bisa gak mau tapi paling tidak berikan aku kesempatan untuk mencoba. Lalu suaminya itu menjelaskan, bukannya dia tidak percaya namun anaknya itu belum diajarkan untuk kepada siapa saja dia boleh ikut pergi dan kepada siapa saja dia tidak boleh setuju diajak pergi. Sejenak aku mengeramkan pendapatnya itu lalu aku mengerti. Ya, anak kecil belum menyadari batas-batasnya dengan matang. Itulah sebabnya kenapa ada anak kecil yang mungkin diam saja saat diperlakukan kurang ajar dengan seseorang yang lebih dewasa namun kemudian batas fisiknya mengungkapkan hal tersebut. Dia bisa menangis sakit saat bagian tubuhnya disakiti. Oleh karena itu bantulah anak-anak kita untuk mempertahankan dirinya, mengenal dirinya dan bantulah mereka memahami dan menghargai batas-batas orang lain.

Return top