Aku memang sudah terbiasa melewati hari Natal yang biasa-biasa saja. Masa-masa beli baju baru dan menghias pohon Natal hanya aku jalani sewaktu aku masih kanak-kanak SD. Keadaan biasa itu dimulai waktu ibuku ndak ada waktu aku baru masuk SMP. Beruntung aku sekolah di SMP Katolik, SMPK Tarakanita 5, waktu itu. Jadi paling tidak aku ndk merasa kesepian banget menjelang Natal karena biasa pada saat itu sekolah mengadakan Pentas Seni yang cukup besar di Aula SMA Tarakanita 1. Namun saat SMA sampai beberapa waktu tahun yang lalu hari Natal benar-benar tidak mempunyai arti atau kesan apa-apa buatku. It goes by just like another days gone by.

Saat-saat itu aku mengalami masa-masa yang mengerikan karena aku mulai mempertanyakan semua itu dan wondering what is the right thing? Could it be any better? Salah satu dari sekian pertanyaan itu adalah kenapa aku ndk pernah atau jarang sekali menerima ucapan Selamat Natal dari teman-temanku yang muslim? Aku ndk terlalu menyadari hal itu awalnya namun lama-lama aku merasa seperti ada yang ganjil saat *acara* salam-salaman itu datang dan aku merasa ada yang kosong.

Aku mencoba mencari tahu dan aku menemukan bahwasanya hal tersebut dilarang karena bertentangan dengan akidah keagamaan mereka. Aku mencoba memahami & menerima hal tersebut sewajar mungkin. Karena aku juga ndak ingin apa adanya aku menyakiti mereka.

Namun tetap saja saat hal seperti itu harus terjadi dengan orang-orang terdekat atau sahabat-sahabat yang bersama mereka aku berbagi banyak hal, suka dan duka, tawa dan canda rasanya menjadi lain. Sakit. I have to admit that I felt like an half alien in their eye. A beast that must be avoided during full-moon.

But then I search the peace within. He must have gone though these all before me and so must I in followed His way. But I also believe in wisdom. There’s moeslem around me that so wise, so dearly care for me. My moeslem step-mother, my so called Mama at the office, my other dearly moeslem friends. And I can’t be still disappointed when I remember their affection for me. Greeting me so warmful in that day. And then those disappointments feeling are vanished.

Kemarin aku dapet hadiah Natal yang dibungkus dari ibuku, (catet kata *dibungkus* ya) sebuah sprei warna biru dengan logo Chelsea FC dimana-mana. Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun hidupku aku menerima kado_Natal_yang_dibungkus. Sweet banget dan aku ndk bisa menyangkal diri untuk tidak terharu dalam-dalam. Nanti ya, aku scan ucapannya. :-)

Dan lalu aku menemukan link ini dari salah seorang aktivis blogger Indonesia.

Aku kutip sedikit disini:

“Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia
agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen
yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan
Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri
perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat
mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami
sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan
yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan
kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu……”

“Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya
memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman,
agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang
dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada
seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya
atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat
Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan
situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan
kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain,
maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu…”

“Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu,
bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai
akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang
membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana
dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal
tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.”

“…kita dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh
umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat
kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan.
Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan
ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah
kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari
kebangkitannya nanti.”

MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 – Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

Aku ndk bisa menyangkal ada perasaan teduh dihatiku saat membacanya. Begitu manusiawi dan saleh. Ada rasa lega yang berhembus masuk ke paru-paruku. Dan aku mensyukurinya. Dan sekali lagi aku mengagumi dan menghormati Bpk. Quraish Shibab sebagai cedekiawan muslim yang manusiawi dan bijaksana. Tuhan memberkati bapak sekeluarga.

Selamat Hari Natal teman-teman. :-)