Peace. Where?
- December 30th, 2005
- Posted in Uncategorized
- Write comment
Gak selamanya ucapan atau hari Natal itu indah buatku. Kadang aku merasakan kepura-puraan yang sangat di dalamnya. Natalku waktu kecil diwarnai acara kunjungan ke saudara-saudara yang lain. Namun ndk jarang kunjungan tersebut terasa kering dan dingin.
Bukankah seharusnya hari Natal itu penuh suasana damai di hati? Saling berbagi kebahagiaan, saling menerima keadaan satu sama lain. Karena Yesus sendiri harus kita terima lahir dalam keadaan yang memprihatinkan dan sama sekali tidak meriah. Kita sekarang bisa menerima keadaan Beliau yang seperti itu setelah semua cerita itu. Setelah Dia diakui sebagai Nabi dan perwujudan Tuhan sendiri. Namun jika kita hidup pada masa kelahiranNya mungkin kita juga akan menyepelekan Dia.
Entah, mungkin aku terlalu melebih-lebihkan hal ini. Namun aku masih tidak dapat melupakan bahwa hari Natal itu seolah hari penghakiman buatku dari Bude, tante atau om-om ku. “Bangun jam berapa kamu kalau libur?”, “Anak gadis kok bangun siang”, “Kamu tuh ndk punya rok ya?”. Dan biasanya aku hanya duduk diam mematung sambil senyum-senyum dan bergayut dilengan bapak atau ibuku atau bersikap itu sesuatu yang lucu dan harus ditertawakan (sikap standar anak kecil kalau merasa terintimidasi). Atau nasehat-nasehat kering yang lainnya, seperti “Kalau gereja itu duduk di dalam diluar itu gak khusuk”, “harus rapi, pake rok. Pake rok tante ya?”. Yah, sebenarnya ndk salah nasehat-nasehat itu tapi kalo diucapkan seperti kalimat yang di garis bawahi dan diulang-ulang begitu terus, seseorang pasti mual. Seolah kita ndk pernah menjadi dewasa dan memiliki karakter sendiri.
Seperti kemarin, aku setengah mulas saat mau mengirim SMS Natal ke budeku. Aku hanya sedang ndk ingin berkunjung ke rumahnya. Aku mendambakan saat dimana aku merasa ingin datang ke rumahnya tanpa harus ada occassion atau event tertentu. Just come by. Makanya saat tidak ada Delivery Report yang masuk aku pun makin senewen. Lalu ku SMS sepupuku. Sampai, namun ndk ada balasan. Aku selalu menemukan keadaan jaringan GSM berlebihan trafik saat hari raya keagamaan jadi ya, sering apes.
Selang beberapa hari kemudian aku SMS kembali dan benar beliau marah padaku. Walau ku katakan alasannya kenapa, beliau tetap meminta agar aku ndk mengulanginya lagi. Again, Natal-Natal dimarahi. Sulit utk merasa damai.
Beberapa waktu sebelumnya tanteku yang annoying (maaf tante) datang ke rumah (seperti biasa antar kue) untung aku kerja jadi hanya ada ibuku dan adik-adikku. Beliau mengantarkan kue yang terus terang terlihat manis dengan buah-buahan diatasnya. Namun…setengah basi. Well, ya dia tidak mengatakan begitu tapi bilang bahwa kue tersebut harus cepat_cepat_dimakan. Adikku yang kecil sudah hampir muntah saat memakannya. Dan tanteku yang juga menerimanya sempat mengingatkan ibuku untuk tidak perlu memakannya. Well, untungnya aku memang ndk terlalu suka kue-kue manis berkrim.
Sepertinya tanteku berusaha memperbaiki keadaan karena esoknya dia menelpon dan meminta aku dan adikku datang malam itu ke rumahnya mengambil seloyang pizza pada pukul 23.00 malam. Aku baru sampai rumah jam 20.30 dan adikku sedang keluar dengan teman-temannya. Dia mengatakan tak bisa antar kesana karena kalau ketahuan tanteku yang satu lagi dia akan terpaksa beli 2 loyang. Oh, please deh, tante! Aku memutuskan ndk ikut. Karena menurutku ndk penting dan dia ndk seharusnya merepotkan orang tengah malam hanya untuk mengambil pizza yang jasa delivery-nya sudah mapan. Mungkin berbeda kasusnya kalau itu adalah kue buatannya yang harus kuambil. Yah, akhirnya adikku terpaksa datang pagi-pagi kesana sebelum berangkat kerja. Again, Natal-Natal dimarahi. Sulit utk merasa damai.
Dan begitulah keadaan keluarga besar bapak-ibuku. Tidak semua memang namun perang dingin karena hal sepele (mostly materi) menyebabkan terlalu banyak kepura-puraan dihari Natal yang seharusnya damai dan teduh itu. Aku tahu mereka baik dan aku mencintai mereka namun ada sikap-sikap mereka yang sangat mengganggu dan tidak dewasa serta tidak bijaksana yang tidak dapat aku terima sebagai contoh dan teladanku. Aku sulit untuk mengagumi mereka.
Aku ingin bisa datang ke rumah mereka dengan perasaan kangen dan hangat. Seperti waktu aku berlebaran ke rumah kakak ibuku beberapa tahun belakangan ini. Aku bisa datang dengan santai, nobody commenting unnecessary things. Tak perlu di paksa melakukan ini itu atau di review kesehariannya. Dan aku disana biasanya ngobrol sebentar setelah itu..tidur. Uuummmh…damai dan bahagia di bumi.
Kapan ya, keluargaku besarku seperti itu?