Archive for December, 2005

Peace. Where?

Gak selamanya ucapan atau hari Natal itu indah buatku. Kadang aku merasakan kepura-puraan yang sangat di dalamnya. Natalku waktu kecil diwarnai acara kunjungan ke saudara-saudara yang lain. Namun ndk jarang kunjungan tersebut terasa kering dan dingin.

Bukankah seharusnya hari Natal itu penuh suasana damai di hati? Saling berbagi kebahagiaan, saling menerima keadaan satu sama lain. Karena Yesus sendiri harus kita terima lahir dalam keadaan yang memprihatinkan dan sama sekali tidak meriah. Kita sekarang bisa menerima keadaan Beliau yang seperti itu setelah semua cerita itu. Setelah Dia diakui sebagai Nabi dan perwujudan Tuhan sendiri. Namun jika kita hidup pada masa kelahiranNya mungkin kita juga akan menyepelekan Dia.

Entah, mungkin aku terlalu melebih-lebihkan hal ini. Namun aku masih tidak dapat melupakan bahwa hari Natal itu seolah hari penghakiman buatku dari Bude, tante atau om-om ku. “Bangun jam berapa kamu kalau libur?”, “Anak gadis kok bangun siang”, “Kamu tuh ndk punya rok ya?”. Dan biasanya aku hanya duduk diam mematung sambil senyum-senyum dan bergayut dilengan bapak atau ibuku atau bersikap itu sesuatu yang lucu dan harus ditertawakan (sikap standar anak kecil kalau merasa terintimidasi). Atau nasehat-nasehat kering yang lainnya, seperti “Kalau gereja itu duduk di dalam diluar itu gak khusuk”, “harus rapi, pake rok. Pake rok tante ya?”. Yah, sebenarnya ndk salah nasehat-nasehat itu tapi kalo diucapkan seperti kalimat yang di garis bawahi dan diulang-ulang begitu terus, seseorang pasti mual. Seolah kita ndk pernah menjadi dewasa dan memiliki karakter sendiri.

Seperti kemarin, aku setengah mulas saat mau mengirim SMS Natal ke budeku. Aku hanya sedang ndk ingin berkunjung ke rumahnya. Aku mendambakan saat dimana aku merasa ingin datang ke rumahnya tanpa harus ada occassion atau event tertentu. Just come by. Makanya saat tidak ada Delivery Report yang masuk aku pun makin senewen. Lalu ku SMS sepupuku. Sampai, namun ndk ada balasan. Aku selalu menemukan keadaan jaringan GSM berlebihan trafik saat hari raya keagamaan jadi ya, sering apes.

Selang beberapa hari kemudian aku SMS kembali dan benar beliau marah padaku. Walau ku katakan alasannya kenapa, beliau tetap meminta agar aku ndk mengulanginya lagi. Again, Natal-Natal dimarahi. Sulit utk merasa damai.

Beberapa waktu sebelumnya tanteku yang annoying (maaf tante) datang ke rumah (seperti biasa antar kue) untung aku kerja jadi hanya ada ibuku dan adik-adikku. Beliau mengantarkan kue yang terus terang terlihat manis dengan buah-buahan diatasnya. Namun…setengah basi. Well, ya dia tidak mengatakan begitu tapi bilang bahwa kue tersebut harus cepat_cepat_dimakan. Adikku yang kecil sudah hampir muntah saat memakannya. Dan tanteku yang juga menerimanya sempat mengingatkan ibuku untuk tidak perlu memakannya. Well, untungnya aku memang ndk terlalu suka kue-kue manis berkrim.

Sepertinya tanteku berusaha memperbaiki keadaan karena esoknya dia menelpon dan meminta aku dan adikku datang malam itu ke rumahnya mengambil seloyang pizza pada pukul 23.00 malam. Aku baru sampai rumah jam 20.30 dan adikku sedang keluar dengan teman-temannya. Dia mengatakan tak bisa antar kesana karena kalau ketahuan tanteku yang satu lagi dia akan terpaksa beli 2 loyang. Oh, please deh, tante! Aku memutuskan ndk ikut. Karena menurutku ndk penting dan dia ndk seharusnya merepotkan orang tengah malam hanya untuk mengambil pizza yang jasa delivery-nya sudah mapan. Mungkin berbeda kasusnya kalau itu adalah kue buatannya yang harus kuambil. Yah, akhirnya adikku terpaksa datang pagi-pagi kesana sebelum berangkat kerja. Again, Natal-Natal dimarahi. Sulit utk merasa damai.

Dan begitulah keadaan keluarga besar bapak-ibuku. Tidak semua memang namun perang dingin karena hal sepele (mostly materi) menyebabkan terlalu banyak kepura-puraan dihari Natal yang seharusnya damai dan teduh itu. Aku tahu mereka baik dan aku mencintai mereka namun ada sikap-sikap mereka yang sangat mengganggu dan tidak dewasa serta tidak bijaksana yang tidak dapat aku terima sebagai contoh dan teladanku. Aku sulit untuk mengagumi mereka.

Aku ingin bisa datang ke rumah mereka dengan perasaan kangen dan hangat. Seperti waktu aku berlebaran ke rumah kakak ibuku beberapa tahun belakangan ini. Aku bisa datang dengan santai, nobody commenting unnecessary things. Tak perlu di paksa melakukan ini itu atau di review kesehariannya. Dan aku disana biasanya ngobrol sebentar setelah itu..tidur. Uuummmh…damai dan bahagia di bumi. :-D

Kapan ya, keluargaku besarku seperti itu?

Selamat Hari Natal

Aku memang sudah terbiasa melewati hari Natal yang biasa-biasa saja. Masa-masa beli baju baru dan menghias pohon Natal hanya aku jalani sewaktu aku masih kanak-kanak SD. Keadaan biasa itu dimulai waktu ibuku ndak ada waktu aku baru masuk SMP. Beruntung aku sekolah di SMP Katolik, SMPK Tarakanita 5, waktu itu. Jadi paling tidak aku ndk merasa kesepian banget menjelang Natal karena biasa pada saat itu sekolah mengadakan Pentas Seni yang cukup besar di Aula SMA Tarakanita 1. Namun saat SMA sampai beberapa waktu tahun yang lalu hari Natal benar-benar tidak mempunyai arti atau kesan apa-apa buatku. It goes by just like another days gone by.

Saat-saat itu aku mengalami masa-masa yang mengerikan karena aku mulai mempertanyakan semua itu dan wondering what is the right thing? Could it be any better? Salah satu dari sekian pertanyaan itu adalah kenapa aku ndk pernah atau jarang sekali menerima ucapan Selamat Natal dari teman-temanku yang muslim? Aku ndk terlalu menyadari hal itu awalnya namun lama-lama aku merasa seperti ada yang ganjil saat *acara* salam-salaman itu datang dan aku merasa ada yang kosong.

Aku mencoba mencari tahu dan aku menemukan bahwasanya hal tersebut dilarang karena bertentangan dengan akidah keagamaan mereka. Aku mencoba memahami & menerima hal tersebut sewajar mungkin. Karena aku juga ndak ingin apa adanya aku menyakiti mereka.

Namun tetap saja saat hal seperti itu harus terjadi dengan orang-orang terdekat atau sahabat-sahabat yang bersama mereka aku berbagi banyak hal, suka dan duka, tawa dan canda rasanya menjadi lain. Sakit. I have to admit that I felt like an half alien in their eye. A beast that must be avoided during full-moon.

But then I search the peace within. He must have gone though these all before me and so must I in followed His way. But I also believe in wisdom. There’s moeslem around me that so wise, so dearly care for me. My moeslem step-mother, my so called Mama at the office, my other dearly moeslem friends. And I can’t be still disappointed when I remember their affection for me. Greeting me so warmful in that day. And then those disappointments feeling are vanished.

Kemarin aku dapet hadiah Natal yang dibungkus dari ibuku, (catet kata *dibungkus* ya) sebuah sprei warna biru dengan logo Chelsea FC dimana-mana. Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun hidupku aku menerima kado_Natal_yang_dibungkus. Sweet banget dan aku ndk bisa menyangkal diri untuk tidak terharu dalam-dalam. Nanti ya, aku scan ucapannya. :-)

Dan lalu aku menemukan link ini dari salah seorang aktivis blogger Indonesia.

Aku kutip sedikit disini:

“Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia
agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen
yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan
Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri
perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat
mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami
sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan
yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan
kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu……”

“Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya
memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman,
agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang
dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada
seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya
atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat
Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan
situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan
kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain,
maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu…”

“Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu,
bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai
akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang
membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana
dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal
tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.”

“…kita dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh
umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat
kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan.
Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan
ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah
kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari
kebangkitannya nanti.”

MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 – Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

Aku ndk bisa menyangkal ada perasaan teduh dihatiku saat membacanya. Begitu manusiawi dan saleh. Ada rasa lega yang berhembus masuk ke paru-paruku. Dan aku mensyukurinya. Dan sekali lagi aku mengagumi dan menghormati Bpk. Quraish Shibab sebagai cedekiawan muslim yang manusiawi dan bijaksana. Tuhan memberkati bapak sekeluarga.

Selamat Hari Natal teman-teman. :-)

Intermittent Access

This blog is strangely got intermittent access. There’s time I can access this page but on some other time it couldn’t be reached at all. :|

Return top